Aku selalu mengira kedewasaan adalah tentang kecepatan, tentang seberapa cepat aku bisa melangkah maju, melupakan masa lalu, dan mengadopsi teknologi terbaru. Pikiran itu kukuh tertanam ketika aku mengambil alih warung kopi kakek yang sepi, sebuah tempat yang beraroma kuno dan penuh debu. Aku melihatnya bukan sebagai warisan, melainkan sebagai proyek yang harus segera dimodernisasi.
Dengan gegabah, aku mengganti meja kayu lapuk dengan material baja mengkilap dan membuang mesin sangrai tradisional yang sudah berumur puluhan tahun. Aku yakin, pelanggan muda akan datang berbondong-bondong jika tempat ini terlihat ‘kekinian’ dan efisien. Namun, yang terjadi justru sebaliknya; pelanggan setia kakek menghilang, dan pelanggan baru hanya datang sekali, lalu tak pernah kembali.
Dua bulan berlalu, dan warung itu terasa seperti kuburan yang berpendingin udara, sunyi dan dingin. Aku duduk di balik meja kasir yang canggih, memandangi layar kosong, merasa seluruh gelar sarjanaku tiba-tiba tidak berarti apa-apa. Rasa malu itu menjeratku, menjadikanku wanita dewasa yang paling tidak dewasa di antara tumpukan kegagalan.
Di tengah keputusasaan itu, Pak Jaya, seorang buruh sangrai yang sudah bekerja sejak zaman kakek, mendekatiku dengan secangkir kopi hitam pekat. Ia tidak menghakimi, hanya menawarkan kehangatan yang tak bisa diberikan oleh mesin kopi otomatisku. Ia berkata, "Nona, kopi yang baik tidak bisa terburu-buru, ia butuh waktu untuk memahami panas dan sabar menghadapi prosesnya." Kata-kata itu menamparku. Aku mulai belajar kembali dari nol, mendengarkan cerita Pak Jaya tentang bagaimana biji kopi harus diperlakukan dengan hormat, bagaimana api harus dijaga, bukan dikendalikan. Aku menyadari bahwa seluruh proses ini adalah cerminan dari sebuah Novel kehidupan yang harus dijalani perlahan, bab demi bab, tanpa melompati bagian yang sulit.
Aku kembali memasang mesin sangrai lama, membersihkannya dengan tangan, dan membiarkan aroma pahit kopi memenuhi udara, bukan hanya sebagai bau, tetapi sebagai karakter. Aku mulai berbicara dengan pelanggan lama, mendengarkan kenangan mereka tentang warung ini, dan menyadari bahwa yang mereka cari bukanlah efisiensi, melainkan nostalgia dan keaslian.
Perlahan, mereka kembali. Bukan karena dekorasi baru, tetapi karena aku berhenti mencoba menjadi sesuatu yang bukan diriku dan warung ini. Aku berhenti mengejar definisi sukses yang kulihat di media sosial, dan mulai menghargai kerentanan serta ketidaksempurnaan.
Kedewasaan yang sesungguhnya ternyata bukan tentang menjadi sempurna atau bebas dari kesalahan, tetapi tentang keberanian mengakui kegagalan dan keinginan untuk membersihkan debu kekecewaan itu satu per satu. Aku belajar bahwa terkadang, mundur selangkah untuk menghargai akar justru membuat kita melompat lebih tinggi.
Malam ini, warung itu kembali ramai, dihiasi tawa dan obrolan yang hangat. Aku menatap api kecil di bawah mesin sangrai, sebuah api yang kini kuperlakukan dengan rasa hormat. Aku tahu badai lain akan datang, tantangan baru akan menghampiri, tapi kini aku memiliki fondasi yang kuat. Pertanyaannya, apakah aku benar-benar siap untuk babak selanjutnya, ataukah aku akan kembali terjebak dalam ilusi kedewasaan?