Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah hadiah otomatis yang datang seiring bertambahnya usia, seperti kenaikan pangkat yang pasti didapatkan. Hidupku saat itu hanyalah serangkaian kenyamanan yang diatur, tanpa tantangan berarti yang bisa mengganggu ritme santai. Namun, semua berubah ketika surat wasiat itu datang, menjatuhkanku dari ketinggian menara gading ke lantai beton yang dingin.
Warisan itu bukanlah uang atau properti mewah, melainkan sebuah kedai kopi tua bernama "Debu Senja" di pinggiran kota yang jauh. Kedai itu nyaris bangkrut, berdebu, dan berbau apek; jauh sekali dari estetika kedai kopi modern yang kukenal. Keputusan untuk mengambil alih terasa seperti bunuh diri, tetapi ada janji yang harus kutepati pada almarhum kakek yang tak pernah kukenal dekat.
Hari-hari pertamaku dipenuhi dengan rasa putus asa yang menyesakkan. Aku membakar biji kopi terbaik, salah menghitung modal, dan sering kali hanya bisa menatap pintu yang tak pernah berayun masuk menyambut pelanggan. Aku merasa bodoh, tidak kompeten, dan berkali-kali ingin menyerah, kembali ke zona nyaman yang memanjakanku.
Namun, di tengah keputusasaan itu, aku bertemu dengan Pak Jaya, seorang pensiunan guru yang menjadi pelanggan tetap tunggal. Ia tidak banyak bicara, hanya memesan kopi hitam pahit setiap pagi dan mengamatinya. Suatu hari, ia berkata, "Kopi terbaik tidak hanya butuh biji yang mahal, Nak. Ia butuh kesabaran dan proses sangrai yang tepat, bahkan ketika apinya terasa terlalu panas." Kata-kata itu menamparku. Aku menyadari bahwa aku selama ini hanya ingin hasil tanpa mau melalui proses pematangan yang menyakitkan. Kedewasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan serangkaian pembelajaran menyakitkan yang kita pilih untuk tetap hadapi, bukan kita hindari.
Aku mulai membaca buku akuntansi, belajar meracik kopi dari nol, dan membersihkan setiap sudut kedai dengan tangan sendiri. Setiap kegagalan kecil kini tidak lagi terasa seperti akhir dunia, melainkan catatan kaki penting dalam babak baru kehidupanku. Aku sadar, kisah perjuanganku ini adalah bagian terpenting dari Novel kehidupan yang sedang kutulis, sebuah babak yang tidak bisa di-skip.
Perlahan, aroma kopi yang kukenalkan mulai berbeda, lebih kaya, lebih tulus. Aku mulai mengenal nama-nama pelanggan, mendengar kisah mereka, dan belajar bahwa setiap orang membawa beban yang tak terlihat. Kedai ini bukan lagi beban, melainkan sebuah laboratorium tempat aku menguji ketahanan diriku.
Sena yang dulu hanya tahu cara menghabiskan uang kini tahu cara menghargai setiap rupiah yang diperoleh dari tetesan keringat. Aku belajar bahwa resiliensi bukanlah sifat bawaan, melainkan otot yang dilatih melalui tekanan. Bekas luka kegagalan di Debu Senja adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah.
Kini, Debu Senja ramai, tetapi aku tidak lagi mengejar keramaian. Aku mengejar ketenangan dalam menghadapi badai. Aku telah menemukan diriku yang sejati, yang dibentuk bukan oleh kenyamanan, tetapi oleh pahitnya perjuangan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah Sena yang baru ini siap menghadapi badai finansial yang sudah lama mengintai di balik laporan keuangan yang belum sempat kusentuh?
