PORTAL7.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa negatif yang berkelanjutan sejak awal Maret 2026. Pada penutupan perdagangan hari Jumat (6/3/2026), indeks terkoreksi signifikan sebesar 124,850 poin atau 1,62 persen.

Koreksi tersebut membawa IHSG ditutup pada level 7.585,687, memperpanjang tren penurunan. Sebelumnya, pada hari Rabu (4/3/2026), indeks bahkan sempat ambruk hingga 4,57 persen ke level 7.577.

Volatilitas pasar yang terjadi ini dipicu oleh perpaduan antara sentimen negatif yang datang dari kancah global dan kekhawatiran yang muncul dari dalam negeri. Kondisi ini membuat pengambilan keputusan investasi oleh para pelaku pasar menjadi sangat rentan.

Hendra Wardana, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, menyoroti bahwa tekanan yang dirasakan IHSG bukan merupakan fenomena mendadak. "Tekanan yang kembali terjadi pada IHSG hingga turun ke kisaran 7.500 pada awal Maret 2026 tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan kombinasi dari tekanan global dan domestik," ujar Hendra.

Salah satu faktor eksternal utama yang membayangi pasar adalah eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Perkembangan internasional ini berdampak langsung pada kenaikan harga komoditas energi dunia.

Dampak dari ketegangan tersebut terlihat dari lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang sempat melampaui level 93 dollar AS per barel. Kenaikan harga energi ini sangat membebani Indonesia sebagai negara yang masih merupakan importir bersih minyak.

Kenaikan harga minyak global berpotensi memberikan tekanan pada neraca perdagangan, stabilitas nilai tukar Rupiah, serta menambah beban subsidi energi yang harus ditanggung oleh pemerintah. Faktor ketidakpastian global ini juga mendorong investor asing untuk mengurangi alokasi aset berisiko mereka.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa pada hari Jumat pekan lalu, tercatat adanya jual bersih asing (net sell) yang mencapai nominal Rp 261,13 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya aksi keluar modal dari pasar domestik.

Sementara itu, dari sisi domestik, pasar tengah mencermati perkembangan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang telah mencapai Rp 135 triliun per Februari 2026. Pemerintah kini dihadapkan pada dilema sulit mengenai penyesuaian subsidi atau kenaikan harga BBM.