PORTAL7.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi selama musim mudik Lebaran tahun 2026. Peringatan ini dikeluarkan mengingat sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam fase peralihan dari musim hujan, dilansir dari Antara.
Kondisi atmosfer saat ini menciptakan potensi hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat, yang sewaktu-waktu dapat disertai angin kencang dan sambaran petir di sejumlah titik. Potensi cuaca ekstrem ini menjadi perhatian utama untuk keselamatan jutaan pemudik.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan informasi penting ini dalam sesi Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang diselenggarakan oleh Komisi V DPR RI pada hari Rabu, 11 Maret 2026. Ia memaparkan prediksi mengenai dinamika cuaca menjelang dan selama periode hari raya.
Menurut Faisal, BMKG memprediksi bahwa peningkatan intensitas curah hujan akan terjadi pada minggu pertama hingga minggu kedua bulan Maret 2026, sebelum akhirnya mulai menunjukkan tren penurunan. Secara umum, cuaca saat Lebaran diprediksi didominasi oleh kondisi berawan hingga berpotensi hujan.
"Potensi peningkatan intensitas curah hujan diperkirakan terjadi pada minggu pertama hingga minggu kedua Maret 2026, dan selanjutnya akan menurun," ujar Teuku Faisal Fathani.
Pada rentang awal Maret (1–10 Maret), sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami hujan ringan hingga sedang, namun beberapa daerah seperti Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur berpeluang mengalami hujan sedang hingga lebat.
Memasuki periode pertengahan hingga akhir Maret (11–30 Maret), prakiraan menunjukkan cuaca masih didominasi hujan ringan hingga sedang, dengan fokus potensi hujan lebat berada di wilayah Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, serta Papua Pegunungan.
BMKG juga mengantisipasi bahwa curah hujan pada bulan April 2026 akan tetap berada pada kategori menengah hingga tinggi, khususnya di wilayah Papua Tengah yang berpotensi mengalami curah hujan sangat tinggi. Faktor seperti aktivitas Monsun Asia, MJO, gelombang atmosfer, dan potensi bibit siklon tropis menjadi pemicu utamanya.
Sebagai strategi mitigasi, BMKG telah menyiapkan rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang akan dilaksanakan secara situasional. Operasi ini bertujuan menekan intensitas curah hujan ekstrem guna mengurangi risiko gangguan pada sektor transportasi darat, laut, dan udara.