PORTAL7.CO.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menduduki posisi puncak sebagai kebijakan pemerintah yang paling diapresiasi oleh masyarakat luas. Berdasarkan data terbaru, inisiatif ini dinilai memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan penduduk di berbagai wilayah Indonesia.

Hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga Survei Median ini dirilis secara resmi pada Rabu, 15 April 2026. Data yang dilansir dari Detikcom menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan respons positif terhadap keberlangsungan program pangan tersebut.

Survei ini melibatkan sebanyak 1.300 responden yang terjaring selama periode 30 Maret hingga 7 April 2026. Pengumpulan aspirasi dilakukan melalui platform media sosial dengan menyasar pengguna aktif berusia 17 hingga di atas 60 tahun.

Metode yang diterapkan adalah penyebaran kuesioner secara proporsional mengikuti populasi digital di tanah air. Mengingat pengambilan data berbasis digital, Median tidak menyertakan margin of error seperti pada metode wawancara tatap muka konvensional.

"Kami meminta publik untuk menyebutkan program pemerintah yang paling mereka sukai secara spontan, dan hasilnya Makan Bergizi Gratis menempati urutan pertama dengan angka mencapai 27,5 persen," kata Rico Marbun.

Selain MBG, beberapa program lain juga muncul dalam ingatan publik meski dengan persentase yang jauh lebih rendah. Bantuan Langsung Tunai (BLT) berada di posisi kedua dengan 8,1 persen, disusul oleh upaya pemberantasan korupsi sebesar 3,8 persen.

Program Sekolah Rakyat dan layanan pemeriksaan kesehatan gratis turut mendapatkan perhatian masyarakat. Kedua inisiatif tersebut masing-masing memperoleh tingkat kesukaan sebesar 3,1 persen dari total responden yang berpartisipasi.

"Secara umum, kami menanyakan bagaimana penilaian masyarakat terhadap dampak program MBG ini, apakah mereka merasakannya sebagai sesuatu yang bermanfaat atau justru sebaliknya," ujar Rico Marbun.

Secara statistik, sebanyak 51,5 persen responden menyatakan bahwa program MBG sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka. Namun, terdapat 31,5 persen yang menilai sebaliknya, sementara 17 persen lainnya memilih untuk tidak memberikan jawaban.