Fenomena tuntutan kerja yang tinggi dan budaya "selalu terhubung" telah memperumit dinamika antara ambisi profesional dan kehidupan pribadi di Indonesia. Banyak individu berprestasi menghadapi dilema serius ketika kesuksesan di kantor mulai mengikis keintiman dan keharmonisan dalam rumah tangga.
Data menunjukkan bahwa tekanan jam kerja panjang, terutama di sektor korporasi dan startup, seringkali menjadi pemicu utama konflik dan ketidakpuasan dalam hubungan jangka panjang. Kurangnya waktu berkualitas yang dihabiskan bersama pasangan menyebabkan penurunan komunikasi emosional, yang esensial bagi fondasi hubungan yang sehat dan berkelanjutan.
Budaya kerja yang menuntut loyalitas total, sering disebut "hustle culture," menempatkan profesional muda pada risiko kelelahan fisik dan mental yang signifikan. Konsekuensinya, energi dan fokus yang seharusnya dialokasikan untuk pasangan atau keluarga justru habis terkuras di lingkungan kerja yang kompetitif.