PORTAL7.CO.ID - Kota Palembang menghadapi tantangan ekonomi serius seiring dengan lonjakan harga kebutuhan pokok pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan indeks harga konsumen yang cukup signifikan sepanjang bulan Februari. Fenomena ini menjadi perhatian khusus bagi otoritas setempat mengingat dampaknya terhadap daya beli masyarakat luas yang mulai tertekan.
Berdasarkan data terbaru, inflasi bulanan (month-to-month) di Kota Palembang pada Februari 2026 menyentuh angka 0,58 persen. Jika ditinjau secara tahunan (year-on-year), laju inflasi daerah ini bahkan telah mencapai angka 4,37 persen. Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, menyebutkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama kenaikan indeks harga tersebut.
Komoditas pangan seperti cabai merah, daging ayam ras, serta telur ayam ras tercatat sebagai penyumbang andil inflasi terbesar di pasar. Dari total 393 komoditas yang dipantau, sebanyak 89 jenis barang mengalami kenaikan harga yang cukup fluktuatif selama periode berjalan. Meski demikian, penurunan harga bensin dan beberapa jenis sayuran sempat membantu meredam laju kenaikan harga agar tidak melambung lebih tinggi.
Edi Subeno menjelaskan secara mendalam mengenai struktur inflasi yang terjadi pada periode laporan resmi tersebut. "Pada Februari 2026 terjadi inflasi m-to-m sebesar 0,58 persen. Secara y-on-y tercatat 4,37 persen, dan inflasi tahun kalender 0,63 persen," ungkap Edi pada Senin (2/3/2026). Ia juga menambahkan bahwa mayoritas komoditas lain sebenarnya masih berada dalam kondisi harga yang relatif stabil.
Selain faktor pangan, tekanan inflasi tahunan di Bumi Sriwijaya ini juga dipicu oleh sektor perumahan dan energi. Kenaikan tarif listrik menjadi variabel dominan dalam kelompok pengeluaran air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Di sisi lain, harga emas perhiasan dalam kelompok perawatan pribadi turut memberikan kontribusi terhadap angka inflasi tahunan Palembang yang sejalan dengan tren nasional.
Menanggapi situasi ini, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, langsung menginstruksikan langkah-langkah mitigasi strategis bagi seluruh jajarannya. Ia menekankan bahwa pengendalian ketersediaan pasokan pangan menjadi prioritas utama, terutama menjelang momentum Idulfitri yang biasanya memicu lonjakan permintaan. Ratu Dewa meminta organisasi perangkat daerah terkait untuk segera melakukan intervensi nyata di sektor perdagangan dan pertanian.
Pemerintah Kota Palembang kini memperkuat strategi 4K dan koordinasi intensif dengan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas ekonomi makro. "Pengendalian, termasuk juga peningkatan permintaan dan ketersediaan pasokan, ini menjadi PR bagi organisasi perangkat daerah pengampu lainnya," tegas Ratu Dewa. Langkah proaktif seperti mendorong gerakan menanam mandiri diharapkan mampu menekan gejolak harga komoditas tertentu di masa mendatang.
Sumber: Infonasional