PORTAL7.CO.ID - Eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah memicu pergeseran besar dalam arus investasi global. Para pelaku pasar kini berbondong-bondong mengamankan modal mereka dengan menjauhi aset-aset yang berisiko tinggi. Emas kembali mengukuhkan posisinya sebagai instrumen lindung nilai atau *safe haven* utama di tengah ketidakpastian situasi dunia.

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengungkapkan bahwa logam mulia akan menjadi komoditas yang paling diburu oleh investor selama konflik berlangsung. Ia menjelaskan bahwa emas menjalankan perannya sebagai aset pelindung karena adanya berbagai risiko sistemik yang membayangi pasar. Faktor durasi konflik, potensi keterlibatan negara lain, hingga kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi menjadi pendorong utama tren ini. "Emas kemungkinan akan lebih diminati dari biasanya ketika pasar dibuka pada hari Senin," kata Waterer sebagaimana dikutip dari Reuters pada Senin (2/3/2026). Ia menegaskan bahwa risiko mengenai seberapa lama perang bertahan akan membuat emas berada di urutan teratas daftar instrumen paling aman. Sebaliknya, pasar saham dan aset berisiko lainnya diprediksi akan mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan awal pekan.

Analis dari Marex, Edward Meir, turut memberikan proyeksi mengenai reaksi spontan pasar terhadap pecahnya peperangan di Timur Tengah. Ia memprediksi akan terjadi lonjakan harga yang cukup signifikan sebagai respons alami dari para investor global. Meir memperkirakan harga emas bisa langsung melesat hingga US$ 200 per troy ons pada saat perdagangan perdana dibuka di awal pekan ini.

Faktor krusial yang saat ini menjadi pusat perhatian para pemodal adalah potensi gangguan pada jalur distribusi minyak mentah dunia. Gangguan terhadap aliran energi ini akan menjadi indikator utama apakah pelarian modal ke aset *safe haven* akan semakin masif atau tidak. Jika pasokan minyak terhambat, maka tekanan terhadap ekonomi global akan semakin besar dan menguntungkan posisi harga logam mulia.

Sementara itu, Fawad Razaqzada yang merupakan Analis Pasar di City Index dan Forex.com, memproyeksikan target harga yang lebih agresif. Ia memperkirakan permintaan emas yang melonjak dapat mendorong harga menuju level US$ 5.500 per troy ons dalam waktu dekat. Bahkan, Razaqzada melihat adanya peluang emas mencetak rekor sejarah baru di atas angka US$ 5.600 atau setara dengan Rp 3 juta per gram.

Meski demikian, Razaqzada memberikan catatan bahwa penguatan harga emas bisa saja tertahan oleh potensi *rebound* pada nilai tukar dolar Amerika Serikat. Kondisi harga minyak mentah yang tetap tinggi juga akan menjadi variabel penentu dalam pergerakan harga komoditas ini ke depannya. Saat ini, komunitas keuangan global terus memantau setiap perkembangan di Timur Tengah dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/emas-jadi-aset-safe-haven