PORTAL7.CO.ID - Kegagalan menyakitkan yang dialami Tim Nasional Italia, Gli Azzurri, baru-baru ini kembali memicu diskusi panas mengenai masa depan sepak bola Italia. Kekalahan dramatis melalui adu penalti dari Bosnia-Herzegovina dalam final play-off Piala Dunia 2026 menjadi pemicu utama kembalinya gagasan revolusioner dari legenda sepak bola, Roberto Baggio.
Tragedi di Stadion Bilino Polje, Zenica, pada Selasa (31/3/2026), memperdalam krisis yang kini melanda Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Publik dan pengamat kini menyoroti kembali dokumen komprehensif Baggio berjudul "Rinnovare il Futuro" (Memperbarui Masa Depan) yang pernah diabaikan.
Masalah fundamental sepak bola Italia mulai terlihat jelas sejak Piala Dunia 2010, ketika Italia tersingkir di fase grup sebagai juara bertahan. Mereka bahkan harus puas berada di dasar klasemen grup, kalah dari Selandia Baru.
Kekecewaan tersebut mendorong Baggio, yang saat itu menjabat sebagai kepala departemen teknis FIGC sejak Agustus 2010, untuk menyusun rencana pemulihan total. Ia bersama 50 pakar menyusun proposal setebal 900 halaman untuk membangun kembali fondasi sepak bola dari akar rumput.
Dokumen visioner tersebut dipresentasikan Baggio pada Desember 2011 kepada petinggi FIGC. Sayangnya, alih-alih mendapat dukungan, proposal tersebut justru dicurigai memiliki agenda politik dan tidak pernah dieksekusi dengan serius oleh otoritas federasi.
Baggio mengungkapkan rasa kecewa mendalam karena merasa kontribusinya diabaikan, sementara ide-idenya dianggap hanya formalitas belaka. Hal ini membuat sang legenda memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 2013.
"Saat kami mempresentasikannya, mereka (FIGC) membuat kami menunggu lima jam di ruangan, lalu hanya memberi kami waktu 15 menit untuk berbicara," kenang Baggio, seperti dikutip dari La Gazzetta dello Sport.
Ia melanjutkan dengan mengungkapkan bahwa proses tindak lanjut sangat lamban dan tidak memuaskan. "Sepuluh bulan telah berlalu dan saya masih menunggu tanggapan. Saya tidak akan menyangkal bahwa saya juga sedikit kecewa," tambah Baggio.
Baggio menekankan bahwa meskipun ada alokasi dana, hanya satu inisiatif kecil yang terlaksana di Tuscany (Coverciano). "Saya berusaha memenuhi peran yang dipercayakan kepada saya, tetapi saya tidak diizinkan melakukannya, dan saya tidak lagi bersedia melanjutkan," ujarnya.