Arjuna selalu percaya bahwa bakat alami adalah mata uang tertinggi. Ia memasuki kompetisi desain terbesar dengan keyakinan membabi buta, menganggap pengalaman hanyalah formalitas. Cahaya panggung utama terasa sudah menjadi miliknya, tinggal menunggu waktu pengukuhan.

Namun, hasil pengumuman adalah tamparan keras yang tak terduga. Namanya tidak disebut, bahkan di daftar kehormatan sekalipun. Rasa malu itu terasa panas, membakar semua kebanggaan yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Selama beberapa bulan setelahnya, ia memilih mengasingkan diri, menolak panggilan telepon, dan membiarkan debu menutupi sketsa-sketsa impiannya. Kehilangan itu bukan sekadar kegagalan; itu adalah penghancuran identitas yang ia kenal. Ia merasa hampa, seolah semua energi kreatifnya tersedot habis.

Di tengah keputusasaan, ia menemukan catatan lama milik ayahnya yang berisi kutipan sederhana: "Kayu yang keras tidak akan pernah menjadi pahatan indah tanpa goresan dan tekanan." Kalimat itu menusuk, memaksa Arjuna untuk melihat lukanya sebagai bahan baku, bukan akhir dari segalanya.

Perlahan, ia kembali ke meja kerjanya, bukan untuk meraih piala, melainkan untuk memahami proses. Ia belajar bahwa kedewasaan bukan tentang memenangkan segalanya, melainkan tentang kemampuan untuk bangun setelah terjatuh tanpa menyalahkan gravitasi. Ini adalah pelajaran paling mahal yang pernah ia bayar.

Setiap malam ia mengerjakan ulang desainnya, kali ini dengan kerendahan hati seorang pemula. Ia mulai menghargai setiap detail, setiap kritik pedas yang dulu ia abaikan. Proses ini mengajarkannya bahwa narasi kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari Novel kehidupan yang harus ia tulis sendiri.

Arjuna tidak pernah kembali ke kompetisi itu, tetapi ia menemukan kepuasan yang jauh lebih dalam dalam proyek-proyek kecil yang ia kerjakan dengan sepenuh hati. Ia belajar mendengar, berempati, dan menyadari bahwa keberhasilan sejati terletak pada dampak, bukan pada sorotan.

Perubahan ini terasa mendalam. Wajahnya mungkin masih sama, tetapi cara ia memandang dunia telah bergeser dari monokromatis menjadi penuh warna. Kegagalan telah mencabut akar kesombongan, menumbuhkan pohon kebijaksanaan yang kokoh di dalam dirinya.

Sekarang, ia memeluk bekas luka itu sebagai peta menuju dirinya yang baru. Sebab, di balik setiap air mata yang jatuh, ia menemukan kekuatan tersembunyi yang tak akan pernah ia sadari ada, jika saja ia tidak pernah dihancurkan oleh kegagalan yang mematikan itu.