Dunia saya dulu adalah kanvas yang luas, dipenuhi spektrum warna cerah dan janji-janji beasiswa di benua seberang. Saya adalah Aruna, seorang pemimpi yang yakin bahwa kebebasan sejati hanya bisa ditemukan di balik kuas dan aroma cat minyak yang tajam. Kedewasaan saat itu hanyalah konsep abstrak yang tersimpan di rak buku yang belum sempat saya sentuh.
Semua berubah saat Ayah ambruk, dan bersamaan dengannya, fondasi kokoh pabrik kayu warisan keluarga ikut berguncang. Tiba-tiba, palet warna saya digantikan oleh tumpukan laporan keuangan yang suram dan daftar panjang hutang yang siap menenggelamkan kami. Panggilan dari galeri seni berganti menjadi panggilan dari bank.
Malam itu, di bawah rembulan yang terasa dingin, saya harus membuat keputusan yang merobek jiwa. Haruskah saya mengejar tiket emas menuju Paris, ataukah saya harus membuang mimpi itu dan mengenakan jubah tanggung jawab yang terasa terlalu berat untuk pundak muda saya? Pilihan itu terasa seperti mengkhianati diri sendiri, namun meninggalkannya terasa seperti mengkhianati darah daging.
Saya memilih tinggal. Dengan tangan gemetar, saya menyimpan kuas terbaik saya ke dalam kotak kayu, menutupnya rapat-rapat seolah menyegel babak kehidupan yang telah usai. Saya mengambil alih kursi pimpinan, menghadapi puluhan karyawan yang menatap skeptis pada gadis berusia awal dua puluhan yang tak tahu apa-apa tentang manajemen risiko.
Hari-hari awal adalah neraka yang berulang. Saya membuat kesalahan bodoh yang merugikan puluhan juta, menelan cemoohan dari pemasok, dan sering menangis di balik meja kerja yang dulunya adalah meja kebanggaan Ayah. Saya merasa gagal, hancur, dan merindukan keindahan sederhana saat saya hanya perlu khawatir tentang perpaduan warna.
Namun, setiap kegagalan itu adalah guru yang kejam tapi jujur. Saya belajar bahwa kekuatan bukan terletak pada seberapa jauh kita bisa berlari dari masalah, melainkan seberapa gigih kita berdiri di tengah badai. Kesadaran itu menghantam saya: perjuangan ini, air mata ini, semua adalah sketsa kasar dari babak terpenting dalam *Novel kehidupan* yang harus saya tulis sendiri.
Perlahan, saya mulai menemukan irama baru. Saya tidak lagi hanya merespons krisis, tetapi mulai merencanakan masa depan. Saya belajar bernegosiasi, merancang strategi, dan yang paling penting, saya belajar mempercayai insting saya sendiri. Kematangan yang saya cari di buku-buku filsafat kini saya temukan di antara tumpukan kayu yang saya selamatkan.
Meskipun sukses perlahan datang, ada harga yang harus dibayar: hilangnya waktu muda yang riang. Tetapi ketika saya melihat ke cermin, saya tidak lagi melihat Aruna yang naif dan penuh impian tak berdasar, melainkan seorang perempuan yang ditempa oleh api tanggung jawab. Saya memahami bahwa kedewasaan adalah kemampuan untuk menanggung kesakitan tanpa kehilangan harapan.
Kini, pabrik itu berdiri tegak, lebih kuat dari sebelumnya. Saya masih sesekali membuka kotak kayu berisi kuas itu, mencium aroma cat yang nostalgik. Saya tahu, meski saya tidak menjadi pelukis yang melukis di kanvas, saya telah menjadi seniman yang mengukir takdir. Tapi satu pertanyaan tetap menggantung: apakah saya benar-benar siap untuk menemukan kembali mimpi yang terkubur itu, ataukah tanggung jawab baru ini telah sepenuhnya mengubah siapa saya?
