Fenomena membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial sering kali memicu kecemasan yang mendalam bagi banyak individu. Kita kerap terjebak dalam arus *hustle culture* yang menuntut produktivitas tanpa henti hingga mengabaikan kesehatan mental serta ketenangan jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati tidak diukur dari standar duniawi yang ditampilkan melalui layar ponsel pintar kita setiap harinya.

Rasa hampa dan kelelahan fisik maupun batin menjadi dampak nyata dari persaingan hidup yang seolah tidak memiliki garis finis yang jelas. Banyak orang merasa tertinggal saat melihat teman sebaya meraih kemapanan karier atau kemewahan materi yang dipamerkan secara instan. Kondisi ini menuntut kita untuk kembali merenungi makna keberadaan kita sebagai hamba yang sedang menjalani ujian di dunia.

Dalam menghadapi kegelisahan hati, Allah SWT telah memberikan panduan melalui firman-Nya mengenai kunci utama meraih ketenangan jiwa yang hakiki. Ketenangan tersebut hanya dapat diraih dengan senantiasa mengingat Allah dan menyadari bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik bagi setiap hamba.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Terjemahan: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki garis waktu atau *timeline* kehidupan yang telah diatur dengan sangat indah oleh Sang Pencipta. Kita tidak perlu merasa gagal hanya karena belum mencapai apa yang orang lain dapatkan pada usia atau tahapan yang sama. Mengamalkan doa untuk melapangkan dada sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Quran merupakan salah satu kunci dalam menerima takdir dengan penuh keridaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu bijak dalam membatasi konsumsi konten media sosial yang sering memicu rasa *insecure* atau kurang bersyukur. Fokuslah untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri di hadapan Allah dan tingkatkan kualitas ibadah sebagai bentuk rasa syukur. Jalur langit melalui doa dan tawakal akan membimbing kita menuju kesehatan mental yang lebih stabil serta terjaga dari rasa hampa.

Hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk mengungguli sesama manusia, melainkan perjalanan panjang untuk mencari rida dan cinta Allah SWT. Dengan melapangkan hati dan menerima setiap ketetapan-Nya, kita akan menemukan kedamaian batin yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Mari kita berhenti mengejar standar orang lain dan mulailah menikmati setiap proses pertumbuhan yang telah Allah gariskan untuk kita.

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/capek-ngejar-standar-hidup-orang-lain-yuk-temukan-inner-peace-lewat-jalur-langit