Tauhid menempati posisi paling mulia dalam struktur keilmuan Islam karena berfokus pada pengenalan terhadap Dzat Allah yang Maha Agung. Mempelajari sifat-sifat Allah bukan sekadar kewajiban intelektual, melainkan sarana utama untuk memperkuat akar keimanan setiap Muslim di era modern. Dengan memahami kesempurnaan-Nya, seorang hamba akan memiliki landasan spiritual yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Para ulama mutakallimin dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah telah menyusun sistematika yang memudahkan umat untuk mengenal Tuhannya secara mendalam. Mereka merumuskan dua puluh sifat wajib yang menjadi representasi dari keagungan dan kemuliaan Allah yang bersifat mutlak. Pendekatan logis ini bertujuan untuk membentengi akidah umat dari berbagai pemikiran menyimpang yang dapat mengaburkan pemahaman tentang ketuhanan.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Klasifikasi yang disusun oleh para ulama ini memberikan kerangka berpikir yang sangat jernih bagi para pencari kebenaran hakiki. Sifat Mukhalafatu lil hawaditsi memastikan bahwa Allah sama sekali berbeda dengan segala sesuatu yang baru atau diciptakan oleh tangan manusia. Melalui pemahaman ini, umat Islam diajak untuk tidak menyerupakan Sang Pencipta dengan makhluk-Nya dalam bentuk, rupa, maupun sifat-sifat terbatas lainnya.

Penerapan ilmu tauhid ini dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan sikap tawakal dan ketenangan batin yang sangat luar biasa. Seorang hamba yang menyadari sifat Qiyamuhu binafsihi akan memahami bahwa hanya Allah yang mandiri dan tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun. Kesadaran spiritual ini memicu rasa ketergantungan yang hanya ditujukan kepada Allah semata dalam setiap helaan napas dan keadaan.

Mendalami dua puluh sifat wajib Allah merupakan langkah awal yang krusial menuju derajat ma’rifat yang hakiki dan menyeluruh. Keyakinan yang dibangun di atas perpaduan argumentasi logis dan dalil naqli akan menghasilkan keimanan yang tangguh serta tidak mudah goyah. Semoga kita senantiasa diberikan hidayah untuk terus mengenal dan mencintai Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya yang luhur dan sempurna.

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/prolegomena-teologis-analisis-epistemologis-dan-ontologis-sifat-sifat-wajib-allah-swt-dalam-perspektif-ahlussunnah-wal-jama-ah