Indonesia, sebagai negara yang terletak di cincin api Pasifik, sangat membutuhkan solusi konstruksi yang mampu menahan guncangan gempa bumi hebat. Menariknya, teknologi bangunan tahan gempa canggih telah dimiliki Indonesia dan teruji ketahanannya selama lebih dari tiga dekade. Bukti nyata inovasi teknik sipil ini berdiri kokoh di Jawa Barat, menunjukkan bahwa mitigasi bencana melalui infrastruktur adalah hal yang mungkin.
Bangunan ikonik yang dimaksud adalah Gedung Tahan Gempa Tenjoresmi, yang secara resmi dikenal sebagai *Experimental Building with Base Isolation System*. Gedung ini telah berdiri tegak di Pelabuhanratu, Jawa Barat, sejak tahun 1993. Meskipun usianya telah melampaui 30 tahun, struktur empat lantai dengan bobot mencapai 786 ton ini tetap kokoh dan teruji oleh puluhan peristiwa gempa.
Keistimewaan utama Gedung Tenjoresmi terletak pada fondasinya yang mengaplikasikan teknologi Base Isolation. Sistem ini dirancang khusus untuk mengisolasi struktur atas bangunan dari pergerakan tanah horizontal saat terjadi gempa. Dengan demikian, energi guncangan dapat diserap oleh bantalan khusus di bagian dasar, meminimalkan kerusakan struktural yang fatal pada bangunan.
Para ahli konstruksi sering menekankan bahwa Base Isolation merupakan solusi vital untuk infrastruktur yang berada di wilayah seismik aktif. Mereka menjelaskan bahwa sistem ini jauh lebih efektif dibandingkan metode konvensional dalam melindungi integritas bangunan tinggi dari deformasi. Keberadaan Gedung Tenjoresmi menjadi laboratorium hidup yang secara empiris memvalidasi efektivitas jangka panjang dari inovasi teknik sipil tersebut.
Keberhasilan bangunan eksperimental ini memberikan implikasi besar terhadap standar keselamatan konstruksi di seluruh Indonesia. Gedung ini membuktikan bahwa teknologi tahan gempa yang mutakhir sudah tersedia dan telah teruji dalam kondisi nyata. Hal ini seharusnya mendorong pemerintah dan pengembang properti untuk mengintegrasikan Base Isolation sebagai standar baku dalam proyek pembangunan infrastruktur strategis di masa depan.
Meskipun teknologi ini telah terbukti andal sejak awal 1990-an, penerapannya secara masif di Indonesia masih memerlukan dorongan regulasi yang lebih kuat. Saat ini, fokus pemerintah adalah memperkuat standar nasional Indonesia (SNI) untuk bangunan tahan gempa. Upaya ini penting untuk memastikan bahwa setiap konstruksi baru memiliki tingkat ketahanan minimum yang memadai, mereplikasi ketangguhan yang telah diuji di Pelabuhanratu.
Gedung Tahan Gempa Tenjoresmi di Pelabuhanratu bukan sekadar bangunan tua, melainkan monumen keahlian teknik sipil Indonesia. Keberadaannya memberikan pelajaran berharga bahwa investasi pada teknologi mitigasi gempa adalah kunci keberlanjutan infrastruktur nasional. Dengan terus mempelajari dan mereplikasi keberhasilan ini, Indonesia dapat membangun lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap ancaman bencana alam.