Aku selalu percaya bahwa kesempurnaan adalah satu-satunya tujuan yang layak dikejar. Sebagai seorang perancang muda yang idealis, aku melihat setiap proyek bukan sekadar bangunan, melainkan manifestasi dari kehendak yang tak bercacat. Keyakinan ini memberiku energi besar, namun juga menjadikanku buta terhadap kerentanan manusia.

Puncak dari arogansi mudaku adalah ‘Menara Senja’, sebuah proyek yang kugarap dengan ambisi yang meluap-luap. Aku menolak saran untuk melakukan tinjauan ulang mendalam, merasa bahwa intuisiku dan perhitungan awal sudah mutlak benar. Di mataku, Menara Senja adalah mahakarya, simbol bahwa aku telah melampaui para pendahuluku.

Namun, beberapa hari sebelum peresmian, sebuah keretakan kecil muncul di fondasi utama, yang dengan cepat menyebar menjadi masalah struktural yang tak terhindarkan. Seluruh proyek, yang telah menyedot energi dan sumber daya tak terhingga, harus dihentikan total. Kehancuran itu terasa seperti petir yang menyambar langsung ke ulu hatiku.

Aku jatuh ke dalam jurang penyesalan yang pekat, dikelilingi oleh badai cemoohan dan kerugian finansial yang tak terbayangkan. Selama berminggu-minggu, aku hanya mampu menatap puing-puing idealisme yang kini berserakan, mempertanyakan setiap keputusan dan mimpi yang pernah kupegang. Rasanya seperti seluruh identitasku telah runtuh bersama Menara Senja.

Di tengah keheningan yang menyakitkan itu, aku mulai menyadari sebuah kebenaran pahit: kedewasaan bukanlah tentang menghindari kegagalan, melainkan tentang bagaimana kita merespons kehancuran. Aku harus berhenti mencari kambing hitam dan mulai menerima bahwa kesalahan itu mutlak milikku.

Ternyata, babak terberat dari Novel kehidupan adalah saat kita dipaksa menulis ulang alur yang sudah kita yakini sempurna. Aku mengambil kuas, bukan untuk melukis kembali Menara Senja, melainkan untuk melukis ulang diriku sendiri—lebih rendah hati, lebih sabar, dan yang terpenting, lebih bertanggung jawab.

Aku mulai mendokumentasikan semua kesalahanku, menjadikannya sebuah buku panduan yang kuajarkan kepada para perancang muda. Aku tidak lagi menjual kesuksesan, melainkan mengajarkan seni menghadapi dan menganalisis kegagalan. Ini adalah proses yang jauh lebih sulit, namun jauh lebih jujur.

Kedewasaan yang sesungguhnya tidak ditemukan dalam pujian, melainkan dalam ketenangan saat menghadapi konsekuensi terburuk. Aku belajar bahwa fondasi terkuat bukanlah beton yang sempurna, melainkan hati yang berani mengakui kekurangan dan bangkit kembali.

Kini, aku berdiri di atas puing-puing masa lalu, bukan sebagai arsitek yang gagal, melainkan sebagai pembangun yang bijaksana. Dan meskipun Menara Senja tak pernah berdiri, aku tahu, fondasi diriku yang baru sudah jauh lebih tegak dan kokoh.