Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah sebuah garis finis yang akan kucapai setelah lulus kuliah, meraih pekerjaan impian, atau ketika usia menyentuh angka tertentu. Dulu, idealismeku setinggi langit, dipenuhi rencana sempurna yang tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi kegagalan atau kejutan pahit. Aku membayangkan transisi yang mulus dari remaja menjadi dewasa, tanpa hambatan berarti.
Namun, hidup memiliki skenario sendiri, sebuah lakon yang jauh lebih brutal dan mendesak. Malam itu, telepon dari kampung halaman membawa kabar buruk yang meruntuhkan menara impianku dalam sekejap. Ayah sakit keras, dan tabungan keluarga terkuras habis; aku harus pulang, meninggalkan beasiswa yang sudah susah payah kudapatkan, serta semua rencana masa depan yang sudah tertata rapi.
Rasa marah dan frustrasi menghantamku seperti gelombang pasang. Aku merasa dicurangi oleh takdir, dipaksa mengenakan jubah tanggung jawab yang terasa terlalu besar dan berat untuk pundak yang baru dua puluh tahun. Tiba-tiba, aku tidak lagi memikirkan nilai A atau proyek akhir; fokusku bergeser pada tagihan rumah sakit, harga beras, dan bagaimana caranya agar dapur tetap mengepul.
Aku mulai bekerja serabutan, mencoba menggabungkan peran sebagai anak, perawat, dan tulang punggung keluarga. Ada masa-masa di mana aku menangis diam-diam di kamar mandi, merasa sangat lelah dan sendirian. Kedewasaan yang kubayangkan adalah kebebasan; kedewasaan yang kualami adalah penjara yang terbuat dari kekhawatiran finansial dan emosional yang tak berujung.
Di tengah kelelahan itu, aku mulai menemukan kekuatan yang tidak pernah kusangka ada dalam diriku. Aku belajar menawar harga obat, berbicara tegas kepada penagih utang, dan merencanakan keuangan bulanan dengan cermat. Aku menyadari bahwa babak paling mendebarkan dalam Novel kehidupan ini bukanlah tentang mencapai kesuksesan yang gemerlap, melainkan tentang kemampuan bertahan saat badai datang tanpa peringatan.
Setiap kegagalan kecil—saat aku ditolak pekerjaan, atau saat uangku hanya cukup untuk membayar separuh tagihan—tidak lagi terasa sebagai akhir dunia. Sebaliknya, hal-hal itu menjadi pelajaran praktis tentang ketahanan. Rasa sakit itu mengikis sifat kekanak-kanakanku, menggantinya dengan empati yang lebih dalam terhadap perjuangan orang lain.
Maturitas sejati, akhirnya aku mengerti, bukanlah tentang usia yang tercantum di kartu identitas, tetapi tentang seberapa besar kita mampu menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu adil. Ia adalah proses di mana kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mencari solusi, meskipun dengan tangan gemetar.
Kini, meskipun jalan yang kutempuh masih terjal, aku berjalan dengan langkah yang lebih mantap. Aku tidak lagi takut pada kegagalan, sebab aku tahu, setiap luka yang muncul telah mengukir peta baru menuju diriku yang lebih kuat. Pertanyaannya sekarang, setelah semua yang kulewati, akankah aku bisa membangun kembali impian yang sempat kutinggalkan di kota itu?
