PORTAL7.CO.ID - Di sudut kota yang selalu diselimuti kabut tipis, hiduplah Rendra, seorang pria yang kehilangan penglihatannya di usia muda. Ia tidak pernah mengeluh pada takdir, sebab matanya telah digantikan oleh pendengaran yang tajam dan imajinasi yang membara.
Rendra menemukan kedamaian saat menyentuh kanvas, jarinya menari mengikuti irama angin sore yang ia rasakan, bukan yang ia lihat. Dunia baginya adalah palet tekstur dan resonansi suara yang tak terhingga.
Ia pernah mencintai seorang penari balet bernama Maya, yang sayapnya patah setelah sebuah kecelakaan tragis yang juga merenggut cahaya mata Rendra. Perpisahan mereka meninggalkan luka yang tak kunjung kering.
Namun, Rendra menolak tenggelam dalam keputusasaan; ia mulai melukis hanya dengan menggunakan indra perabanya. Setiap goresan adalah bisikan kenangan dan janji untuk bangkit.
Perjalanan Rendra adalah cerminan nyata dari sebuah Novel kehidupan yang penuh liku, di mana kegelapan seringkali menjadi kanvas terbaik untuk memancarkan cahaya sejati. Ia mengajarkan bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan awal dari cara baru untuk melihat keindahan.
Suatu hari, sebuah surat tua ditemukan Rendra di antara puing-puing rumah lamanya, surat yang ditulis Maya sebelum kecelakaan itu terjadi. Surat itu berisi pengakuan yang selama ini ia takutkan.
Isi surat itu tidak hanya membahas cinta, tetapi juga sebuah rahasia tersembunyi tentang bagaimana Rendra bisa kehilangan penglihatannya. Kebenaran pahit itu mengancam untuk merobek kedamaian yang susah payah ia bangun.
Rendra kini harus memilih: menerima kebenaran yang menyakitkan itu dan melukis babak terakhir hidupnya dengan kejujuran, atau membiarkan ilusi kebahagiaan tetap menjadi senja abadi dalam kanvasnya. Novel kehidupan ini memaksanya menghadapi bayangan masa lalu.
Saat jarinya menyentuh ujung surat yang robek, Rendra tersenyum tipis, merasakan tekstur kertas yang sama seperti sapuan kuas pertamanya. Apakah ia akan menemukan warna baru setelah badai kebenaran ini menerpa, ataukah ia akan memilih untuk tetap buta terhadap realitas demi ketenangan sesaat?