Aku selalu percaya bahwa ambisi adalah bahan bakar terbaik untuk masa muda. Di usia yang seharusnya masih dipenuhi tawa ringan, aku memilih memanggul beban tanggung jawab besar: mendirikan galeri seni dan kafe kecil yang kuberi nama ‘Anak Senja’. Semua tabungan, semua harapanku, tertumpah di sana.
Matahari terbit yang kulihat dari jendela galeri selalu terasa menjanjikan, seolah alam semesta mendukung setiap kuas dan cangkir kopi yang kusediakan. Aku merasa tak terkalahkan, seorang arsitek muda yang sedang merancang masa depannya sendiri tanpa campur tangan siapapun. Aku lupa, bahwa fondasi yang kuat tidak hanya dibangun dari semangat, tetapi juga dari kehati-hatian.
Namun, badai tak pernah meminta izin untuk datang. Sebuah keputusan bisnis yang salah, kepercayaan yang dikhianati oleh rekan terdekat, dan tiba-tiba saja, Anak Senja runtuh seperti istana pasir di tepi pantai. Kerugian finansial yang kualami jauh lebih kecil dibandingkan kerugian emosional yang menghantamku.
Aku menarik diri. Selama berminggu-minggu, kamar menjadi penjara emas tempat aku mengubur rasa malu dan penyesalan. Setiap bunyi notifikasi terasa seperti vonis, dan setiap bayangan galeri yang dulu ramai kini hanya menyisakan hampa yang menusuk. Aku bertanya-tanya, mengapa takdir sekejam ini pada seseorang yang hanya ingin berjuang? Titik baliknya datang bukan dari nasihat, melainkan dari keheningan. Dalam kebisuan itu, aku menyadari bahwa aku tidak kehilangan segalanya; aku hanya kehilangan sebuah bangunan. Pengalaman, pelajaran, dan kemampuan untuk bangkit masih sepenuhnya milikku.
Aku mulai menyusun kembali puing-puing itu, bukan dengan ambisi yang membabi buta, melainkan dengan kebijaksanaan yang lahir dari rasa sakit. Aku belajar membedakan antara mimpi yang harus dikejar dan ilusi yang harus dilepaskan, sebuah proses yang jauh lebih sulit daripada sekadar menghitung untung rugi.
Inilah babak paling esensial dalam Novel kehidupan yang harus aku tulis sendiri. Kegagalan itu adalah tinta permanen yang mengukir kedewasaan, mengajarkan bahwa karakter sejati seseorang diuji saat ia harus berdiri tegak meski lututnya gemetar hebat. Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukanlah tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kecepatan kita memutuskan untuk bangkit setelah tersungkur.
Perlahan, aku kembali ke dunia, tidak lagi sebagai gadis yang ingin membuktikan diri, tetapi sebagai wanita yang memahami batas dan kekuatannya. Senja yang kulihat kini bukan lagi senja janji-janji manis, melainkan senja yang mengingatkanku pada akhir yang membawa awal baru.
Mungkin, sebagian orang baru mencapai kedewasaan di usia matang, tetapi aku mendapatkannya lebih awal, dibayar tunai dengan harga yang mahal. Apakah aku menyesal? Tidak. Karena kini aku tahu, patahan-patahan mimpi itu adalah peta yang menuntunku menuju versi diriku yang paling jujur dan paling tangguh.
