Aku selalu percaya bahwa ambisi adalah mata uang paling berharga. Di usia dua puluhan, aku merasa dunia berada dalam genggamanku; ide-ideku cemerlang, dan energi yang kumiliki seolah tak terbatas. Aku mendirikan proyek impian dengan keyakinan buta bahwa setiap langkah yang kuambil pasti akan menghasilkan emas.
Kesombongan itu, seperti yang sering terjadi, adalah jebakan paling halus. Aku mengabaikan nasihat senior, menolak kritik pedas dari rekan kerja, dan bersikeras bahwa visiku adalah satu-satunya kebenaran. Pikiranku dipenuhi dengan bayangan kesuksesan besar, membuatku tuli terhadap gemuruh peringatan yang mulai terdengar pelan di kejauhan.
Lalu, badai itu datang. Proyek yang kubangun dengan keringat dan air mata, runtuh dalam hitungan hari, bukan karena kurangnya usaha, melainkan karena kesalahan perhitungan fundamental yang ditutupi oleh ego. Kehilangan finansial tak seberapa dibandingkan dengan kehilangan harga diri dan kepercayaan dari orang-orang yang kusayangi.
Aku menarik diri ke dalam gua kesendirian, membiarkan kegelapan menelan semua cahaya. Berhari-hari aku hanya menatap langit-langit, mempertanyakan siapa diriku tanpa label ‘sukses’ yang selama ini kusematkan. Rasa malu itu begitu tebal, seolah menempel di kulit dan tak bisa dicuci bersih.
Titik baliknya bukan terjadi di ruang rapat megah, melainkan di dapur umum tempatku menjadi relawan, jauh dari sorotan dan tepuk tangan. Di sana, aku bertemu dengan seorang ibu tua yang kehilangan rumahnya, namun tetap tersenyum saat membagikan semangkuk nasi hangat. Ia mengajarkanku bahwa nilai seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan.
Perlahan, aku mulai merangkai kembali pecahan diriku, bukan sebagai seorang jenius yang ambisius, tetapi sebagai manusia yang rentan. Aku belajar meminta maaf, belajar mendengar tanpa memotong, dan yang paling sulit, belajar menerima bahwa aku tidak tahu segalanya. Kedewasaan ternyata adalah proses menanggalkan topeng kesempurnaan.
Seluruh perjalanan ini—jatuh, hancur, dan perlahan bangkit—adalah babak terpenting dalam *Novel kehidupan* yang sedang kutulis. Setiap kegagalan menjadi tinta yang mempertebal karakterku, mengubahku dari pemuda yang terburu-buru menjadi seseorang yang menghargai proses dan waktu.
Aku kini bergerak dengan ritme yang lebih lambat, lebih sadar akan dampak tindakanku terhadap orang lain. Proyek baru yang kurintis tidak lagi didorong oleh nafsu pengakuan, melainkan oleh keinginan tulus untuk berkontribusi dan melayani.
Maturitas bukanlah hadiah yang datang seiring bertambahnya usia, melainkan upah yang kita terima setelah berani mengakui kesalahan terbesar kita. Dan di sinilah aku sekarang, berdiri di tepi jurang yang pernah menelanku, menyadari bahwa kedewasaan sejati adalah ketika kita mampu mencintai diri kita yang patah, dan berjanji untuk membangunnya kembali dengan fondasi yang jauh lebih kokoh.
