Aku selalu percaya bahwa hidup adalah garis lurus yang menanjak, di mana setiap langkah yang terencana pasti akan membawa pada puncak kejayaan. Di usia yang masih belia, aku sudah merancang ‘Menara Gading’ impianku, sebuah proyek yang kuharap akan menjadi bukti kejeniusan dan ambisiku yang tak terbatas. Semuanya terasa pasti, terstruktur, dan berkilauan.

Namun, semesta punya cara yang brutal untuk mengajarkan kerendahan hati. Dalam satu malam yang terasa dingin, pondasi Menara Gading itu runtuh, bukan karena kesalahanku sepenuhnya, tetapi karena badai tak terduga yang menyapu bersih semua modal dan kepercayaan yang telah kubangun. Aku tidak hanya kehilangan uang; aku kehilangan identitas yang selama ini kupegang teguh.

Rasa malu itu mencekik, membuatku ingin menghilang dari peredaran. Aku menutup diri, mematikan telepon, dan membiarkan kamar menjadi gua persembunyian yang gelap, tempat di mana aku bisa tenggelam dalam penyesalan tanpa perlu menghadapi tatapan iba orang lain. Dunia yang kukenal seolah berhenti berputar, menyisakan keheningan yang memekakkan telinga.

Saat itulah aku menyadari, idealismeku yang tinggi ternyata hanya selimut tipis yang mudah robek. Selama ini, aku hanya pandai merencanakan hal-hal besar, tetapi sangat canggung menghadapi kekacauan kecil yang nyata. Kegagalan ini bukan hanya menghancurkan, tetapi juga menelanjangi semua kelemahan dan kepengecutanku.

Aku mulai memunguti pecahan-pecahan diriku yang berserakan. Aku meninggalkan zona nyaman, menerima pekerjaan kasar yang jauh dari gemerlap impianku sebelumnya, hanya untuk memastikan dapur tetap mengepul. Aku belajar bahwa martabat tidak terletak pada jabatan, melainkan pada kemampuan untuk bangkit kembali setelah terjatuh.

Setiap sen yang aku dapatkan dengan keringat dan lelah kini terasa jauh lebih berharga daripada jutaan rupiah yang hilang dalam sekejap. Aku belajar bernegosiasi dengan rasa sakit, memahami bahwa kematangan adalah proses menerima ketidaksempurnaan dan terus berjalan. Inilah fragmen Novel kehidupan yang sesungguhnya; babak di mana aku berhenti menjadi pemimpi dan mulai menjadi pejuang.

Perlahan, bekas luka itu mulai mengering, meninggalkan guratan yang tidak lagi terasa perih, tetapi justru menjadi peta. Peta yang menunjukkan jalan mana saja yang berbahaya, dan jalan mana yang harus ditempuh dengan kehati-hatian. Aku tidak lagi mengejar kesempurnaan yang fana, melainkan mencari kedamaian dalam realitas yang serba kurang.

Kini, aku berdiri di titik yang berbeda. Aku mungkin tidak secepat dan seagresif dulu, tetapi aku jauh lebih kokoh. Aku telah belajar bahwa kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak yang berhasil kau capai, melainkan seberapa tangguh dirimu ketika badai merenggut segalanya.

Lalu, sebuah pertanyaan muncul di benakku, pertanyaan yang tak pernah terpikirkan saat aku masih sibuk membangun Menara Gading: apakah aku akan berani mengambil risiko besar itu lagi, sekarang setelah aku tahu betapa pahitnya rasa kehilangan? Atau, apakah aku telah menjadi terlalu bijaksana—atau mungkin terlalu takut—untuk kembali bermain api?