Aku ingat betul, di usia yang masih terlalu percaya diri, aku melihat dunia sebagai papan catur yang bisa kuatur sesuka hati. Ambisi membakar, seolah setiap ideku adalah mahakarya yang tak mungkin salah, dan aku menolak keras saran dari para senior yang dianggapku kolot. Kecepatan adalah segalanya, dan kesabaran hanyalah milik mereka yang takut mengambil risiko.
Keangkuhan itu runtuh seiring dengan runtuhnya proyek bangunan komunitas pertamaku, hanya beberapa bulan setelah peresmian. Bukan hanya material yang hancur, tetapi juga kepercayaan warga desa yang telah menggantungkan harapan mereka padaku. Rasa malu itu begitu pekat, menjebakku dalam lorong gelap yang dipenuhi suara-suara penyesalan.
Aku melarikan diri, menjauh dari reruntuhan fisik dan emosional yang kubuat, berharap jarak bisa menghapus dosa-dosa arsitekturku. Berbulan-bulan aku hidup dalam pelarian, bekerja serabutan di kota asing, mencoba meyakinkan diri bahwa kegagalan itu hanyalah sebuah kecelakaan, bukan cerminan dari karakterku yang cacat.
Namun, di tengah kesibukan kota yang kejam, aku merasa kosong. Uang dan kesenangan sesaat tak mampu menambal lubang di hatiku; aku terus dihantui oleh mata-mata kecewa para penduduk desa. Aku menyadari, kedewasaan bukanlah tentang menghindari masalah, melainkan tentang keberanian untuk kembali dan membersihkan kekacauan yang kita ciptakan.
Aku kembali ke desa itu, dengan langkah berat dan kepala tertunduk, siap menghadapi penghakiman terburuk. Sambutan yang kudapat jauh lebih dingin dari perkiraan, tetapi di tengah keheningan itu, aku menemukan sepasang mata tua milik Pak Karta, kepala desa, yang menawarkan sekantong semen dan palu, bukan kata-kata makian.
Proses membangun kembali adalah neraka yang kubutuhkan. Aku tidak lagi bertindak sebagai ‘arsitek jenius’ melainkan sebagai seorang buruh, mendengarkan setiap keluhan, mempelajari setiap retakan tanah, dan membiarkan keringat bercampur dengan air mata penyesalan. Aku belajar bahwa fondasi yang kuat dibangun dari kesabaran, bukan kecepatan.
Di tengah lumpur dan debu, aku mulai membaca ulang diriku. Kegagalan itu adalah editor paling kejam yang pernah kutemui, membuang semua paragraf keangkuhan yang pernah kutulis. Inilah babak paling penting dalam Novel kehidupan yang harus kujalani, di mana aku akhirnya memahami perbedaan antara ambisi dan tanggung jawab.
Ketika bangunan itu berdiri tegak kembali, jauh lebih kokoh dan sederhana, tidak ada tepuk tangan meriah untukku. Hanya anggukan pelan dari Pak Karta yang terasa lebih berharga dari penghargaan apapun. Aku tidak lagi mencari pengakuan; aku hanya mencari kedamaian batin.
Kedewasaan ternyata bukan pencapaian, melainkan sebuah proses yang menyakitkan. Ia lahir dari kesediaan kita untuk mengakui bahwa kita hanyalah manusia biasa, yang sesekali harus tersandung agar tahu bagaimana cara berdiri yang benar. Kini, aku siap menulis kisah selanjutnya, tetapi pertanyaan besarnya adalah: apakah fondasi yang baru kubangun ini akan bertahan saat badai kehidupan yang berikutnya datang?
