Dinamika sosial politik di era digital menuntut kesadaran kritis masyarakat dalam menyaring setiap informasi yang beredar luas di ruang publik. Penguatan literasi menjadi kunci utama untuk mencegah perpecahan yang dipicu oleh penyebaran berita bohong atau provokasi tanpa dasar.

Data menunjukkan bahwa penetrasi internet yang tinggi seringkali tidak dibarengi dengan kemampuan analisis data yang mumpuni oleh para penggunanya. Akibatnya, sentimen negatif di media sosial sering kali berubah menjadi konflik nyata yang mengancam integrasi nasional secara luas.

Fenomena polarisasi politik biasanya muncul akibat algoritma media sosial yang cenderung mengurung individu dalam ruang gema informasinya sendiri. Kondisi ini menciptakan sekat-sekat pemikiran yang kaku dan menyulitkan terjadinya dialog sehat antar kelompok masyarakat yang berbeda pandangan.