Aku selalu membayangkan hidupku akan diwarnai oleh kanvas berbau cat minyak dan aroma kopi di sudut kota asing. Selama ini, seluruh energi dan fokusku tertuju pada satu mimpi besar: beasiswa seni ke Eropa, tempat aku bisa benar-benar menjadi diriku, seniman yang bebas. Namun, semesta punya cara yang sangat brutal untuk mengubah arah kompas hidup yang telah kita susun rapi.
Pagi itu, telepon dari rumah sakit mengubah segalanya menjadi abu-abu. Orang tua kami harus segera pergi untuk menjalani perawatan jangka panjang di luar kota, meninggalkan aku, yang baru lulus SMA, sebagai satu-satunya penanggung jawab Kinan, adik perempuanku yang masih SD. Seketika, Paris terasa sejauh galaksi; yang tersisa hanyalah daftar belanjaan, tagihan listrik, dan mata Kinan yang penuh harap.
Keputusan terberat dalam hidupku bukanlah memilih warna cat, melainkan menekan tombol ‘hapus’ pada formulir aplikasi beasiswa yang sudah hampir selesai. Aku harus menjual beberapa lukisan terbaikku, bukan untuk membeli kuas baru, melainkan untuk membayar uang sekolah dan membeli beras. Rasa pahit itu menjalar, membisikkan pertanyaan mengapa takdir sekejam ini merampas kesempatan emas yang telah kuraih susah payah.
Dunia yang tadinya penuh dengan teori warna dan komposisi, kini berganti menjadi manajemen waktu dan negosiasi harga di pasar. Aku belajar memasak, mencuci, dan mendengarkan keluhan guru Kinan. Setiap malam, setelah Kinan tertidur, aku akan duduk sendirian di ruang tamu yang dingin, meratapi hilangnya masa muda yang seharusnya penuh petualangan, bukan tanggung jawab.
Ada saatnya aku ingin menyerah, berteriak pada langit bahwa ini terlalu berat untuk bahu seorang gadis yang baru saja mengenal arti kebebasan. Aku ingat pernah menangis di depan cermin, melihat pantulan diriku yang jauh lebih tua dari usia biologisku, dengan lingkaran gelap di bawah mata dan senyum yang terasa dipaksakan.
Namun, perlahan aku mulai menyadari bahwa setiap air mata dan keringat ini adalah babak penting. Inilah yang disebut Novel kehidupan; kisah yang tidak bisa kita edit atau hapus, hanya bisa kita jalani hingga tuntas, satu halaman demi satu halaman. Kedewasaan ternyata bukanlah tentang usia, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu bangkit setelah dipaksa berlutut.
Melihat Kinan tertawa lepas setelah aku berhasil memperbaiki mainannya yang rusak, atau saat ia memelukku erat sebelum tidur, aku menemukan kekuatan yang tidak pernah kutahu kumiliki. Tanggung jawab ini tidak merenggut diriku, melainkan membentuk fondasi baru yang jauh lebih kokoh dari mimpi-mimpi lamaku yang rapuh.
Aku tidak lagi memandang pengorbanan sebagai kehilangan, melainkan sebagai investasi emosional yang tak ternilai harganya. Meskipun kanvas seni itu masih tergulung di sudut kamar, kini aku tahu bahwa aku telah melukis mahakarya yang jauh lebih rumit dan indah: ketahanan diri dan cinta tanpa syarat.
Mimpi ke Paris mungkin tertunda, namun Risa yang sekarang jauh lebih siap untuk menghadapinya, atau bahkan menciptakan jalur baru yang tak pernah terbayangkan. Pertanyaannya, setelah semua badai ini berlalu, apakah aku masih akan menjadi Risa yang sama ketika tirai babak baru ini dibuka?
