Panggilan telepon di tengah malam itu mengubah seluruh peta hidupku. Aku yang terbiasa hidup dalam kemudahan dan gemerlap kota, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit: Ayah jatuh sakit, dan perkebunan Kopi Senja terancam gulung tikar. Kebebasan yang selama ini kubanggakan terasa hampa ketika tanggung jawab yang sesungguhnya menghantam.

Kepulangan ke desa terasa seperti perjalanan waktu mundur, dari beton dingin ke lumpur basah yang beraroma tanah dan biji kopi matang. Rumah yang dulu hanya tempat singgah liburan kini menuntutku untuk menjadi nahkoda. Kontrasnya begitu menyakitkan, seolah aku dipaksa menanggalkan seluruh identitas lamaku demi peran baru yang sama sekali tidak kukenali.

Aku mencoba mengelola, namun para pekerja tua menatapku dengan keraguan yang kentara. Angka-angka di pembukuan tampak menari, mencerminkan kerugian yang terus membengkak, jauh lebih besar daripada yang pernah Ayah ceritakan. Aku menyadari bahwa selama ini aku hanya menikmati hasil, tanpa pernah memahami betapa berat perjuangan di baliknya.

Di tengah keheningan kebun, aku mulai membaca babak baru dalam hidupku. Ini bukan lagi sekadar drama pribadi; ini adalah sebuah warisan yang harus diselamatkan. Aku menyadari bahwa perjuangan ini adalah esensi dari Novel kehidupan yang sesungguhnya, di mana setiap kesulitan adalah alur cerita yang membentuk karakterku.

Aku mulai turun tangan, belajar membedakan biji yang matang sempurna dan yang terinfeksi hama, tanganku yang biasa memegang tas mahal kini akrab dengan getah dan tanah. Perlahan, aku mendapatkan respek dari para pekerja, bukan karena aku anak pemilik, tetapi karena keringat yang kubagi bersama mereka di bawah terik matahari.

Malam-malam panjang dihabiskan untuk menghitung modal dan mencari pasar baru, memaksa otakku bekerja di luar zona nyaman. Aku belajar bahwa kedewasaan bukan diukur dari usia, melainkan dari kemampuan untuk berdiri tegak saat badai datang, dan berani mengakui kesalahan saat membuat keputusan yang salah.

Setiap cangkir kopi yang kuminum kini terasa berbeda, ada campuran pahitnya perjuangan dan manisnya harapan di dalamnya. Aku menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan yang fana, tetapi pada kepuasan melihat pohon kopi yang kurawat sendiri menghasilkan panen terbaik.

Namun, tantangan terbesar belum usai. Sebuah perusahaan besar tiba-tiba mengajukan tawaran untuk membeli seluruh lahan Kopi Senja dengan harga fantastis. Uang itu bisa melunasi semua utang dan menjamin kenyamanan Ayah di masa tua.

Kini, aku berdiri di antara dua pilihan: menjual warisan yang telah mengajarkanku arti hidup, atau mempertaruhkan segalanya, menggunakan sedikit sisa modal untuk melawan pasar demi mempertahankan janji yang kuikrarkan pada diriku sendiri. Apakah aku sudah cukup dewasa untuk menentukan nasib Kopi Senja?