Arka selalu mengira hidup adalah garis lurus yang dihiasi bunga-bunga indah, sebuah janji manis yang pasti terpenuhi jika ia berusaha cukup keras. Ia memandang dunia dengan lensa optimisme yang tebal, belum tersentuh oleh kerikil tajam kenyataan yang seringkali bersembunyi di balik rumput ilusi. Ia yakin, tekad yang kuat adalah satu-satunya modal untuk mencapai puncak.
Pukulan itu datang tanpa peringatan, merobohkan seluruh menara impian yang ia bangun susah payah di atas fondasi idealismenya. Kegagalan proyek yang ia yakini sempurna, ternyata membawa konsekuensi yang jauh lebih berat dari sekadar kerugian materi. Ini adalah kerugian kepercayaan diri dan pengakuan bahwa ia tidak tahu segalanya.
Selama beberapa bulan, ia memilih bersembunyi di balik tirai penyesalan, menyalahkan keadaan, cuaca, bahkan takdir yang terasa begitu kejam. Rasa pahit itu menggerogoti semangatnya, membuatnya enggan menatap matahari lagi, seolah kegagalan adalah label permanen yang melekat di dahinya.
Ia merasa terisolasi, seakan-akan semua orang di sekitarnya melaju sementara ia terperosok di lumpur keraguan. Ia mulai mempertanyakan segala keputusan yang pernah ia ambil, tenggelam dalam pusaran "andai" yang tak berujung.
Sampai suatu senja yang dingin, seorang kawan lama berujar pelan sambil menatap cakrawala, "Kedewasaan bukanlah hak istimewa yang datang bersama usia, Arka, melainkan hasil dari luka yang kau terima dan kau putuskan untuk sembuhkan." Kalimat itu menusuk, namun juga menyalakan kembali percikan api yang hampir padam dalam hatinya.
Arka mulai membereskan puing-puing, satu per satu. Ia menyadari bahwa ia terlalu fokus pada tujuan akhir, lupa bahwa proses pembentukan diri justru terjadi saat ia jatuh dan harus bangkit sendiri, tanpa uluran tangan siapa pun.
Momen pahit ini adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang ia tulis dengan tinta air mata. Ia belajar bahwa setiap tokoh utama harus melalui lembah gelap, mengakui kelemahan, sebelum akhirnya menemukan cahaya sejati yang bersumber dari ketulusan hati dan penerimaan diri.
Kini, ia tidak lagi takut pada kegagalan; ia justru menyambutnya sebagai guru yang keras namun jujur. Sudut pandangnya berubah, dari seorang pemimpi yang naif menjadi seorang perencana yang matang, yang memahami bahwa risiko dan tanggung jawab adalah dua sisi mata uang yang sama.
Ia berdiri tegak di ambang pintu babak baru, siap menyambut tantangan berikutnya dengan senyum tipis yang penuh makna. Kedewasaan ternyata adalah proses panjang penerimaan, dan ia baru saja menyelesaikan halaman pertamanya. Apakah ia akan berhasil kali ini? Hanya waktu, dan ketulusan hatinya, yang bisa menjawab.