Kereta malam itu membawa pergi semua kenyamanan yang selama ini mendekapku erat dalam pelukan hangat ibu. Aku menatap jendela yang basah oleh sisa hujan, menyadari bahwa mulai besok, namaku bukan lagi sekadar anak kecil yang manja.
Kota besar menyambutku dengan kebisingan yang asing dan tuntutan hidup yang mencekik leher setiap pagi. Di kamar kos yang sempit, aku belajar bahwa sepiring nasi bukan sekadar makanan, melainkan hasil dari peluh yang tak kunjung kering.
Kegagalan pertamaku datang tanpa permisi, meruntuhkan menara ego yang selama ini kubangun dengan penuh kesombongan. Aku terduduk di trotoar yang dingin, meratapi impian yang hancur berkeping-keping di bawah lampu jalan yang temaram.
Namun, di tengah keputusasaan itu, aku menyadari bahwa setiap luka adalah tinta yang menuliskan bab baru dalam perjalananku. Ini adalah sebuah novel kehidupan yang sedang kurangkai sendiri, di mana setiap air mata menjadi bumbu paling jujur dalam ceritanya.
Kedewasaan ternyata tidak datang melalui perayaan ulang tahun, melainkan melalui keputusan untuk tetap berdiri saat dunia memaksaku berlutut. Aku mulai belajar memaafkan keadaan dan berhenti menyalahkan takdir atas segala kekurangan yang kumiliki.
Tangan yang dulunya hanya tahu cara meminta, kini mulai terbiasa merangkul beban dan memberi tanpa mengharap balasan. Ada kedamaian aneh yang menyelinap saat aku menyadari bahwa kekuatan sejati terletak pada kelembutan hati yang telah teruji badai.
Kini, aku menatap cermin dan melihat sosok yang jauh lebih tenang, meskipun garis-garis lelah mulai menghiasi sudut mataku. Aku tidak lagi takut pada hari esok, karena aku tahu setiap tantangan adalah guru yang menyamar sebagai kesulitan.
Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan ketidaksempurnaan dan tetap berjalan meski kaki terasa berat. Pertanyaannya, sudahkah kau memeluk dirimu sendiri hari ini setelah semua badai yang berhasil kau lalui?