Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah sebuah garis waktu, sesuatu yang datang otomatis seiring bertambahnya usia. Dulu, duniaku hanyalah kanvas kosong, dipenuhi idealisme seni yang liar dan janji-janji pameran tunggal yang gemerlap. Aku mengira, tantangan terbesar hanyalah bagaimana mencampur warna yang sempurna.
Namun, hidup punya cara brutal untuk mengoreksi pandangan naif itu. Badai datang dalam wujud kabar buruk tentang kesehatan Ayah dan runtuhnya pilar keuangan keluarga secara mendadak. Dalam sekejap, kuas dan cat minyakku harus diganti dengan seragam kemeja yang kaku dan jam kerja yang menuntut.
Keputusan untuk menunda impian adalah rasa sakit yang menusuk, sebuah pengorbanan yang terasa tidak adil. Ada residu pahit di tenggorokan setiap kali aku melihat teman-temanku merayakan pencapaian artistik mereka, sementara aku sibuk menghitung laba rugi di sebuah toko yang sama sekali tak kukenal. Aku merasa dikhianati oleh takdir, marah pada semesta yang seolah merenggut kebebasanku.
Malam-malamku dipenuhi renungan, bertanya-tanya mengapa aku harus memikul beban seberat ini saat usia masih muda. Aku mencari keadilan, tetapi yang kudapatkan hanyalah cermin yang memantulkan wajah lelah dan mata yang kehilangan kilau idealisnya. Kelelahan fisik itu lambat laun mengikis emosi, meninggalkan ruang hampa yang harus kuisi dengan ketabahan.
Titik balik itu datang saat aku melihat Ayah tersenyum tulus, meskipun tubuhnya rapuh, karena ia tahu aku ada di sampingnya. Di momen itu, aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang tertera di kartu identitas, melainkan tentang kapasitas hati untuk menerima dan bertanggung jawab penuh atas realitas yang ada. Ini adalah babak paling nyata dari Novel kehidupan yang harus kuhadapi tanpa editor atau skenario yang indah.
Aku mulai melihat nilai dalam pekerjaan baruku, bukan lagi sebagai hukuman, tetapi sebagai jembatan. Jembatan yang membawaku pada empati baru, pada pemahaman bahwa setiap orang yang kutemui juga membawa beban dan perjuangan mereka sendiri. Aku belajar negosiasi, manajemen waktu yang ketat, dan yang terpenting, bagaimana menelan ego demi tujuan yang lebih besar.
Perlahan, residu pahit itu berubah menjadi fondasi yang kokoh. Aku memang kehilangan waktu untuk melukis, tetapi aku mendapatkan pemahaman mendalam tentang warna manusia. Kanvas hidupku kini jauh lebih kaya, bukan hanya oleh warna-warna cerah harapan, tetapi juga oleh warna gelap perjuangan dan abu-abu kesabaran.
Aku mungkin tidak menjadi seniman yang sukses seperti yang kubayangkan saat itu, tetapi aku menjadi manusia yang utuh, yang mampu berdiri tegak di tengah badai. Pengalaman itu telah mengukir diriku menjadi sosok yang lebih dewasa, yang tidak lagi lari dari kesulitan, melainkan menyambutnya sebagai guru terbaik.
Lalu, bagaimana dengan pameran tunggal yang dulu kutinggalkan? Apakah mimpi itu benar-benar mati, atau hanya tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk dibangkitkan oleh versi diriku yang kini jauh lebih matang dan siap menghadapi segala konsekuensi?
