Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid yang fokus pada pemurnian ajaran Islam di Indonesia sejak masa awal berdirinya. Namun, sejarah mencatat bahwa istilah Takhayul, Bid’ah, dan Churafat atau TBC tidak muncul secara spontan sejak organisasi ini lahir. Semangat ini berkembang seiring dengan dinamika pemikiran dan interaksi intelektual para tokohnya dalam merespons kondisi masyarakat.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan bahwa isu TBC baru mulai mengemuka secara kuat setelah tahun 1927. Sebelum periode tersebut, fokus gerakan lebih banyak tertuju pada aspek pendidikan dan pelayanan sosial bagi masyarakat luas. Perubahan ini terjadi ketika Muhammadiyah mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran pemurnian yang lebih tegas dan sistematis.
Landasan utama dari gerakan pemurnian ini adalah komitmen untuk menjaga kemurnian ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras agar umat Islam tidak terjebak dalam perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim berikut ini:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
Terjemahan: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim)
Haedar Nashir menekankan bahwa lahirnya semangat anti-TBC memiliki korelasi yang sangat erat dengan penguatan konsep tauhid. Menurut beliau, pembersihan akidah dari unsur-unsur luar adalah konsekuensi logis dari keimanan yang lurus dan murni. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah senantiasa bersikap dinamis namun tetap teguh dalam menjaga prinsip-prinsip dasar keislaman.
Dalam konteks kehidupan modern, semangat pemurnian ini mengajak kita untuk lebih kritis terhadap berbagai tradisi yang tidak memiliki dasar agama. Kita didorong untuk terus menuntut ilmu agar dapat membedakan mana yang merupakan ajaran agama dan mana yang sekadar adat istiadat. Kesadaran ini sangat penting untuk membangun masyarakat Muslim yang cerdas, berwawasan luas, namun tetap religius.
Memahami sejarah lahirnya gerakan anti-TBC memberikan kita perspektif yang lebih mendalam mengenai perjuangan dakwah di tanah air. Gerakan ini bukan sekadar tentang pelarangan, melainkan upaya tulus untuk membawa umat kembali kepada cahaya Islam yang murni. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam menjalankan syariat Islam yang bersih dari segala bentuk penyimpangan.