Aku selalu percaya bahwa hidup adalah rangkaian perencanaan yang sempurna. Jika rumusnya tepat, hasilnya pasti gemilang; aku berpegangan pada keyakinan dangkal itu selama bertahun-tahun, membangun menara ambisi di atas fondasi yang rapuh bernama kesempurnaan. Aku melihat diriku sebagai arsitek yang tak mungkin salah, siap menertawakan mereka yang tersandung.
Namun, semesta punya cara yang brutal untuk mengoreksi kesombongan. Momen itu datang saat proyek terbesar yang kupegang—sebuah mahakarya yang kubanggakan—runtuh total di hadapan mata banyak orang. Bukan karena faktor eksternal, melainkan karena kepingan ego yang membuatku enggan menerima kritik dan masukan.
Kekalahan itu menghantamku seperti badai tropis, meninggalkan puing-puing harga diri dan samudra kekecewaan. Aku menarik diri, membiarkan kegelapan merayap masuk, mempertanyakan setiap langkah dan keputusan yang pernah kubuat. Aku merasa telanjang, bukan hanya di mata orang lain, tetapi juga di hadapan cerminku sendiri yang kini memantulkan sosok yang asing dan rapuh.
Butuh waktu yang lama, ditemani kopi pahit dan buku-buku usang, untuk menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan titik balik. Aku mulai membaca ulang buku harian lama, bukan untuk meratapi masa lalu, tetapi untuk mencari pola-pola kesalahan yang terus berulang. Aku menemukan bahwa aku selalu berfokus pada hasil akhir, melupakan esensi dari proses itu sendiri.
Perlahan, aku bangkit, namun kali ini bukan dengan tergesa-gesa mencari kemenangan baru, melainkan dengan kerendahan hati untuk belajar. Aku mulai mendengarkan, benar-benar mendengarkan, suara-suara di sekitarku—suara rekan kerja, suara pembaca, bahkan suara bisikan keraguan dalam diriku.
Aku menyadari, bahwa apa yang kualami ini adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang disebut orang sebagai Novel kehidupan. Tidak ada babak yang sempurna, selalu ada konflik, kehilangan, dan pemulihan. Kedewasaan sejati ternyata adalah kemampuan untuk menerima ketidakpastian dan tetap berjalan, meskipun kakimu gemetar.
Aku mengubah caraku menulis, caraku bekerja, dan caraku memandang dunia. Aku belajar bahwa kelemahan bukanlah aib, melainkan ruang untuk bertumbuh; bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan indikasi kekuatan emosional. Aku mulai merangkul kerentanan.
Ketika kesempatan serupa datang, aku menghadapinya dengan persiapan yang lebih matang, namun yang paling penting, dengan hati yang lebih lapang. Kali ini, hasilnya tidak lagi menjadi penentu kebahagiaanku. Aku menemukan kepuasan mendalam justru dalam interaksi, kolaborasi, dan kemampuan untuk tersenyum tulus, bahkan saat ada hal kecil yang melenceng dari rencana.
Kedewasaan bukanlah tentang seberapa tinggi pencapaian yang kau raih, melainkan seberapa dalam kau memahami dirimu sendiri saat kau jatuh. Dan kini, setelah badai berlalu, aku berdiri di tengah reruntuhan ego lama, memegang pena, siap menulis babak baru yang jauh lebih jujur dan bermakna. Apakah aku akan berhasil? Aku tidak tahu, tapi setidaknya, aku sudah tahu bagaimana cara untuk bangkit lagi.
