Aku selalu hidup dalam gelembung kaca, tempat impianku tentang kanvas dan palet warna menjadi satu-satunya realitas. Kedewasaan bagiku hanyalah angka yang akan kucapai, bukan medan pertempuran yang harus kumasuki. Dunia terasa mudah, seperti sketsa pensil yang bisa dihapus jika salah.
Namun, gelembung itu pecah ketika surat dari bank tiba, bersamaan dengan suhu tubuh Nenek yang tak kunjung turun. Workshop batik tradisional yang menjadi jantung keluarga kami, warisan turun-temurun, ternyata berada di ambang kehancuran finansial. Utang menumpuk, dan Nenek terlalu lemah untuk memimpin.
Pada hari yang sama, email beasiswa seni yang kunantikan selama bertahun-tahun juga masuk, menjanjikan jalan keluar dari kota kecil ini menuju galeri impian di seberang samudra. Dua jalan terbentang di hadapanku: meraih masa depan yang kupilih, atau menyelamatkan masa lalu yang membesarkanku.
Tanpa banyak bicara, aku menyimpan kuas-kuas terbaikku ke dalam kotak kayu, mencium aroma cat minyak untuk terakhir kalinya. Aku mengganti gaun ringanku dengan kain batik usang dan mulai mempelajari pembukuan yang rumit, yang penuh dengan angka merah dan janji-janji yang tak terpenuhi.
Malam pertama aku mencoba bernegosiasi dengan pemasok yang marah terasa seperti terjun bebas tanpa parasut. Mereka tidak melihat Risa si pemimpi, mereka hanya melihat pemilik baru yang naif dan rentan. Aku menangis di balik tumpukan kain mori, menyadari bahwa kepintaran akademis tidak berarti apa-apa di hadapan kerasnya realitas.
Setiap kegagalan kecil, setiap penolakan dari pembeli, adalah lembar baru yang terisi dalam lembaran tak terduga yang disebut Novel kehidupan. Aku belajar bahwa integritas jauh lebih berharga daripada bakat, dan bahwa janji yang ditepati adalah mata uang yang paling kuat.
Enam bulan berlalu, dan aku tidak lagi mengenali diriku yang dulu. Tanganku kini kasar karena larutan pewarna, bukan lembut karena sentuhan kuas. Aku sudah lelah, tapi mata ini sekarang melihat dunia dengan kejernihan yang menyakitkan, namun jujur.
Aku berhasil menyelamatkan workshop itu, bukan dengan keajaiban, melainkan dengan keringat dan pengorbanan tanpa henti. Aku mengorbankan impianku, tetapi sebagai gantinya, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi diri yang kokoh.
Di tengah keheningan workshop, aku menyentuh kain batik yang baru selesai dicelup. Mungkin aku belum bisa melukis di atas kanvas, tapi kini aku tahu, babak terberat dalam hidupku telah berhasil kulukis dengan warna ketahanan dan keberanian. Dan yang paling menyakitkan, aku menyadari bahwa aku tidak lagi menunggu kedewasaan; aku telah menjadi dewasa.
