PORTAL7.CO.ID - Di sebuah gang sempit yang jarang tersentuh cahaya matahari, Pak Aris menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan roda gigi berkarat. Suara detak jam dinding yang saling bersahutan menjadi satu-satunya musik yang menemaninya dalam kesunyian yang panjang.
Meski penglihatannya mulai merabun, jemari tuanya masih sangat lincah menari di atas mesin-mesin waktu yang macet. Baginya, setiap jam yang rusak menyimpan rahasia tentang penyesalan dan harapan pemiliknya yang belum sempat tersampaikan.
Suatu sore, seorang gadis kecil datang membawa sebuah jam saku perak yang sudah tidak lagi berdetak selama puluhan tahun. Gadis itu hanya ingin mendengar suara detaknya sekali lagi, demi memenuhi janji terakhir mendiang ibunya.
Pak Aris tersenyum getir, menyadari bahwa kisah ini layaknya sebuah novel kehidupan yang penuh dengan lika-liku tak terduga. Ia tahu bahwa memperbaiki jam ini berarti membuka kembali kotak pandora masa lalu yang mungkin menyakitkan.
Dengan penuh ketelitian, ia membersihkan setiap debu yang menempel pada pegas-pegas halus di dalam jam perak tersebut. Setiap putaran obeng kecilnya seolah-olah sedang merajut kembali memori yang sempat terputus oleh kejamnya waktu.
Di luar sana, dunia bergerak begitu cepat dan bising, namun di bengkel kecil itu, waktu seolah-olah tunduk pada kemauan Pak Aris. Ia percaya bahwa selama detak jantung masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki apa yang telah hancur.
Setelah berjam-jam bergelut dengan kerumitan mesin, akhirnya suara denting yang merdu kembali terdengar memecah keheningan ruangan. Mata gadis kecil itu berbinar, memancarkan cahaya kebahagiaan yang sudah lama padam dari wajah mungilnya.
Namun, saat Pak Aris menyerahkan jam itu kembali, tangannya gemetar hebat dan sebuah rahasia besar tentang asal-usul jam itu mulai terungkap. Ternyata, jam perak itu memiliki inisial yang sama dengan miliknya yang hilang saat tragedi besar melanda keluarganya dahulu.
Pak Aris kini harus memilih, apakah ia akan menceritakan kebenaran yang bisa mengubah hidup gadis itu selamanya atau membiarkannya pergi. Waktu memang bisa diperbaiki, namun apakah hati yang terluka bisa sembuh hanya dengan denting jam yang kembali berbunyi?