Langit sore itu tampak muram, seolah mengerti remuknya harapan yang baru saja kulepaskan di balik pintu kantor yang tertutup rapat. Aku berdiri di trotoar, menggenggam sisa-sisa mimpi yang hancur berkeping-keping tanpa sempat kuperjuangkan lebih jauh.
Kegagalan bukan sekadar kata, melainkan tamparan keras yang menyadarkanku bahwa dunia tidak berputar sesuai keinginanku. Aku mulai menyadari bahwa selama ini aku hanya berlari di tempat, mengejar bayangan semu yang tak pernah benar-benar nyata.
Hari-hari berikutnya adalah sunyi yang mencekam, di mana aku dipaksa berdialog dengan ego yang terluka parah. Dalam kesendirian itu, aku belajar mendengarkan detak jantungku sendiri yang mulai berirama dengan ketabahan yang baru tumbuh.
Setiap halaman dari Novel kehidupan yang kujalani terasa semakin berat, namun setiap goresan tintanya memberikan makna yang lebih mendalam. Aku tidak lagi mengutuk badai yang datang, melainkan mulai belajar bagaimana cara menari di bawah guyuran hujan yang deras.
Kedewasaan ternyata tidak datang melalui perayaan bertambahnya usia, melainkan melalui luka yang berhasil mengering dan membentuk kekuatan baru. Aku mulai memaafkan diriku sendiri atas segala keputusan bodoh yang pernah kuambil di masa muda yang penuh kegagahan palsu.
Hubungan dengan orang-orang di sekitarku pun berubah, dari yang semula penuh tuntutan menjadi penuh pengertian dan empati. Aku belajar bahwa mendengarkan jauh lebih berharga daripada sekadar ingin didengar oleh dunia yang sudah terlalu bising ini.
Langkah kakiku kini terasa lebih ringan meskipun beban yang kupikul sebenarnya tidak pernah benar-benar berkurang sedikit pun. Perbedaannya hanya satu: aku telah tumbuh lebih besar dari masalah-masalah yang dulu sempat membuatku ingin menyerah pada keadaan.
Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang keberanian untuk tetap berdiri tegak saat semua orang mengharapkanmu untuk jatuh tersungkur. Namun, apakah aku benar-benar sudah sampai di puncak kedamaian, ataukah ini hanyalah awal dari pendakian yang jauh lebih terjal?