Aku selalu membayangkan diriku berdiri di galeri besar, dikelilingi kanvas berlumur cat minyak, bukan debu malam yang lengket. Impianku sederhana: menjadi pelukis yang karyanya diburu kolektor, jauh dari hiruk pikuk kota kecil yang menahan napas. Aku yakin, kebebasan sejati hanya ada di palet warna.

Namun, takdir punya skenario yang jauh lebih keras. Kepergian Nenek yang mendadak meninggalkan Bengkel Batik Pusaka dalam kondisi sekarat, tercekik utang dan manajemen yang usang. Aku, si seniman yang hanya tahu teori warna, tiba-tiba harus menjadi nakhoda bagi belasan karyawan yang menggantungkan hidup padaku.

Masa-masa awal adalah neraka yang dingin. Aku membuat kesalahan bodoh dalam perhitungan bahan baku dan nyaris kehilangan kepercayaan para pengrajin senior. Setiap malam aku tidur dengan rasa sesak, menyadari bahwa mengelola manusia dan warisan jauh lebih rumit daripada mencampur warna di atas kanvas.

Aku mulai membenci bau lilin panas dan suara canting yang berulang. Aku merindukan keheningan studio, tetapi tanggung jawab ini menuntutku untuk mendengarkan, untuk belajar dari tangan-tangan tua yang telah mengabdi puluhan tahun. Mereka mengajariku bahwa keindahan sejati terletak pada kesabaran dan proses yang tak tergesa-gesa.

Perlahan, kebencian itu bertransformasi menjadi penghormatan. Aku mulai memahami filosofi di balik setiap motif, mengapa pola Parang Rusak harus dibuat seolah-olah tak pernah usai. Aku bukan lagi Risa si pemimpi, melainkan Risa si penjaga, yang tangannya kini kasar karena sering menyentuh kain, bukan kuas.

Pengalaman ini adalah kurikulum termahal yang pernah kuterima. Aku menyadari bahwa kehidupan tidak bisa diwarnai sesuai seleraku; kadang ia menuntut kita untuk menerima warna gelap yang sudah ada dan mencari cara agar warna itu tetap bersinar. Inilah esensi dari sebuah Novel kehidupan, di mana karakter utama dipaksa berhadapan dengan babak yang paling tidak ia inginkan.

Puncak pendewasaan itu tiba ketika aku harus mengambil keputusan sulit untuk memecat seorang distributor yang korup, meski itu berarti kehilangan sebagian besar pasar kami. Keputusan yang dulu mustahil kubayangkan kini kuambil tanpa keraguan, demi menjaga integritas dan kelangsungan hidup bengkel.

Aku tidak tahu apakah aku akan kembali menjadi seniman murni suatu hari nanti. Tapi aku tahu, aku tidak akan pernah lagi menjadi Risa yang sama. Kain batik yang dulu terasa membebani, kini kurasakan sebagai jubah kekuatan yang membungkus jiwaku.

Kematangan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita capai, melainkan seberapa banyak yang kita relakan untuk tumbuh. Dan kini, setelah badai berlalu, aku berdiri di tengah bengkel, menatap api yang menghangatkan malam, bertanya-tanya: pelajaran apa lagi yang akan disiapkan oleh hari esok?