Aku selalu membayangkan kedewasaan sebagai pintu gerbang yang dilewati dengan anggun, bukan jurang yang menjebak. Hidupku sebelum itu terasa seperti diatur dengan presisi, dikelilingi pagar kenyamanan yang tebal, menjauhkanku dari segala bentuk kekecewaan yang tajam. Namun, semesta punya cara sendiri untuk merobek peta yang telah kita buat, terutama saat mendiang Kakek mewariskan Galeri Senja yang hampir bangkrut kepadaku.
Tiba-tiba, tumpukan laporan keuangan yang kusut dan jeritan tagihan menjadi bahasa sehari-hari yang harus kupelajari. Aku yang terbiasa hanya memilih warna cat untuk lukisan, kini harus memilih antara membayar sewa atau membeli bahan baku, sebuah dilema yang terasa mencekik. Beban tanggung jawab itu terasa seperti batu besar yang diletakkan di pundakku yang sebelumnya hanya mengenal beban tas kuliah.
Kepahitan pertama datang bukan dari kegagalan bisnis, melainkan dari pengkhianatan orang terdekat yang seharusnya menjadi sekutu. Kepercayaan yang kuberikan dengan tulus ternyata dibalas dengan perhitungan curang, menguras sisa kas Galeri hingga titik nadir. Malam itu, aku duduk di lantai dingin Galeri, menyaksikan bayangan diriku yang naif hancur berkeping-keping.
Air mata yang tumpah bukan hanya karena kerugian materi, tetapi karena kesadaran menyakitkan bahwa tidak semua orang memiliki niat baik; bahwa dunia tidak selembut yang diajarkan di rumah. Aku merasa ingin menyerah, menjual semua sisa kenangan itu, dan kembali ke kehidupan lama yang bebas dari risiko. Rasanya terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah kata bernama ‘bertahan’.
Namun, di tengah puing-puing keputusasaan itu, aku menemukan surat lama Kakek yang terselip di laci meja kerjanya. Beliau menuliskan bahwa seni sejati adalah kemampuan untuk menemukan keindahan bahkan dalam kehancuran, dan bahwa warisan terbesar bukanlah bangunan, melainkan semangat untuk memulai lagi. Kata-kata itu menamparku, menyadarkanku bahwa aku sedang menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi kuat.
Aku mulai bangkit, memaksa diri mempelajari hukum kontrak, negosiasi dengan kreditor yang galak, dan bahkan belajar memperbaiki atap yang bocor sendirian. Setiap lecet di tangan, setiap penolakan yang kuterima, adalah pelajaran yang jauh lebih berharga daripada semua teori yang pernah kudengar. Aku mulai mengerti bahwa kedewasaan adalah proses aktif, bukan status yang diberikan.
Inilah yang disebut orang-orang sebagai Novel kehidupan yang sesungguhnya; di mana plot tidak selalu berjalan sesuai keinginan, dan protagonis harus menelan pil pahit berkali-kali sebelum akhirnya menemukan kekuatan batin. Aku belajar bahwa kegagalan bukanlah lawan, melainkan guru yang paling jujur dan keras.
Kini, Galeri Senja tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan narasi baru—narasiku. Aku tidak lagi takut menghadapi tatapan skeptis atau tantangan yang mengintai di balik pintu. Kenyamanan yang hilang telah digantikan oleh ketangguhan yang tak ternilai harganya.
Pengalaman itu tidak hanya membuatku dewasa, tetapi juga membuatku manusia. Aku tahu bahwa badai berikutnya pasti akan datang, namun kali ini, aku tidak akan menunggu badai itu berlalu. Aku akan belajar cara menari di tengah hujan, karena di sanalah kekuatan sejati ditemukan.