Aku selalu membayangkan masa depanku berhiaskan ijazah bergengsi dan penerbangan lintas benua. Rencanaku tertata rapi, seperti buku agenda yang tak pernah terlewat satu halaman pun. Namun, takdir seringkali memiliki selera humor yang gelap, dan ia memutuskan untuk merobek semua halaman agendaku tanpa permisi.
Pagi itu, aroma kopi yang biasanya menenangkan di kedai kecil milik Ayah terasa pahit dan menyesakkan. Ayah duduk di hadapanku, bukan dengan senyum bangga seperti biasanya, melainkan dengan tumpukan tagihan yang membuat bahunya tampak ringkih. Aku yang selama ini hanya fokus pada teori dan idealisme, tiba-tiba dihadapkan pada realitas keras: bisnis keluarga sedang di ambang kehancuran.
Keputusan itu datang dengan cepat dan menyakitkan. Aku harus mengambil alih, menunda beasiswa impian yang sudah di depan mata. Rasanya seperti dipaksa mengenakan sepatu yang dua ukuran lebih kecil—sesak, canggung, dan penuh lecet. Aku tidak tahu cara memesan bahan baku, apalagi cara menghadapi wajah-wajah kecewa para pemasok.
Minggu-minggu pertama adalah neraka. Aku menangis di balik meja kasir yang dingin, merasa bodoh dan tidak kompeten. Aku menyadari, belajar mengatur keuangan dan menahan ego jauh lebih sulit daripada mengerjakan skripsi. Tetapi di tengah keputusasaan itulah, aku menemukan inti dari keberanian. Inilah bagian tersulit dan paling jujur dari sebuah Novel kehidupan, di mana karakter utama tidak bisa lari dari masalahnya sendiri.
Perlahan, aku mulai merangkak. Aku belajar mendengarkan keluhan pelanggan, membedakan biji kopi terbaik, dan yang terpenting, aku belajar berkata ‘tidak’ pada pengeluaran yang tidak perlu. Tangan yang tadinya hanya terbiasa memegang pena kini cekatan menghitung stok dan membersihkan mesin penggiling.
Aku ingat saat Ibu berkata, "Kedewasaan bukan tentang usia, Nak. Tapi tentang seberapa besar kau bersedia menanggung beban yang bukan maumu." Kata-kata itu menancap, mengubah rasa terpaksa menjadi rasa memiliki. Aku mulai melihat celah kecil di balik kegagalan, menyadari bahwa setiap kesulitan adalah kesempatan untuk mendefinisikan ulang diriku.
Waktu berlalu tanpa kusadari. Risa yang dulu egois dan hanya peduli pada pencapaian pribadi, kini menjadi Risa yang mampu merasakan denyut nadi kekhawatiran orang lain—kekhawatiran para karyawan yang bergantung pada kedai ini. Aku tidak lagi mencari pengakuan dari luar, tetapi dari kemampuan diriku sendiri untuk bertahan.
Aku belum berhasil membuat kedai ini makmur, tetapi aku berhasil membuatnya stabil. Ketika aku menatap pantulan diriku di jendela kedai, aku melihat seorang wanita yang lebih kuat, matanya tidak lagi dipenuhi ketakutan akan kegagalan, melainkan ketenangan yang lahir dari badai yang berhasil dilewati. Aku tidak mendapatkan ijazah impianku, tetapi aku mendapatkan pendidikan yang jauh lebih berharga.
Mungkin besok atau lusa, badai lain akan datang. Tetapi sekarang aku tahu, aku memiliki jangkar yang kokoh. Aku telah belajar bahwa melepaskan kendali atas rencana hidup kita sendiri terkadang adalah satu-satunya cara untuk benar-benar tumbuh. Lalu, apa lagi yang menanti di babak selanjutnya dari kisah ini?
