Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah tentang mencapai usia tertentu, memiliki gelar mentereng, dan mampu membeli kopi mahal tanpa melihat daftar harga. Aku hidup dalam gelembung privilege yang tipis, menganggap masalah finansial hanyalah dongeng yang diceritakan di berita, bukan realitas yang bisa menghantam pintu rumahku. Kenyamanan itu membuatku pongah dan buta terhadap perjuangan orang lain.
Semua berubah saat badai itu datang tanpa peringatan. Kesehatan Ayah merosot tajam, berbarengan dengan runtuhnya bisnis yang selama ini menopang seluruh hidup kami. Tiba-tiba, aku, si anak sulung yang hanya tahu cara menghabiskan uang, harus mencari cara untuk menghasilkan uang demi tagihan rumah sakit yang terus menumpuk. Dunia yang kukenal hancur berkeping-keping dalam satu malam yang dingin.
Aku terpaksa meninggalkan kampus dan menerima pekerjaan apa pun yang mau menerimaku, berakhir sebagai kuli angkut di sebuah gudang distribusi yang ramai. Delapan belas jam sehari, punggungku terasa patah, tanganku melepuh, dan pakaianku selalu berbau keringat serta debu. Aku yang dulu jijik pada noda, kini tidur dengan lumpur di sepatu bot.
Ego yang selama ini kujunjung tinggi mulai rontok, lapis demi lapis. Setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai gudang adalah air mata penyesalan atas kesombonganku di masa lalu. Aku mulai melihat rekan kerjaku, orang-orang sederhana yang bekerja keras bukan untuk liburan mewah, melainkan hanya untuk memastikan anak mereka bisa makan malam ini.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa apa yang kulihat di layar bioskop hanyalah fiksi; realitas yang kujalani sekarang adalah Novel kehidupan yang sesungguhnya, penuh babak tak terduga dan ujian yang menyakitkan. Aku menyadari bahwa kedewasaan sejati tidak diukur dari apa yang kau miliki, melainkan dari seberapa besar kau mampu menanggung beban yang bukan hanya milikmu sendiri.
Di tengah kelelahan ekstrem, justru aku menemukan kedamaian yang tak pernah kurasakan saat hidup bergelimang kemudahan. Aku belajar mengucapkan terima kasih atas semangkuk nasi hangat dan tidur nyenyak di kasur keras. Rasa syukur yang tulus itu adalah mata air baru yang membasuh jiwaku yang kotor.
Aku tidak lagi mencari jalan pintas atau berharap pada keajaiban; aku hanya fokus pada hari ini, pada tumpukan kardus yang harus kuangkat, dan pada senyum tulus yang kuberikan pada Ayah di akhir pekan. Kekuatan terbesar ternyata bukan pada uang yang kita pegang, melainkan pada kemampuan kita untuk terus berdiri tegak setelah berkali-kali dijatuhkan.
Krisis itu memang merenggut kenyamananku, namun ia menghadiahkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah diri yang utuh, yang telah diuji oleh api penderitaan. Maka, jangan pernah takut pada kesulitan, sebab di sanalah karaktermu yang sesungguhnya mulai ditulis.
