Aku selalu berpikir kedewasaan adalah tentang usia, tentang perayaan ulang tahun ke sekian, bukan tentang beban yang tiba-tiba. Saat surat warisan itu tiba, berisi kunci toko buku tua yang nyaris bangkrut, duniaku yang penuh warna pastel seketika berubah menjadi abu-abu kusam. Ini bukan lagi petualangan romantis yang kubayangkan, ini adalah kenyataan yang menuntut pertanggungjawaban penuh.

Toko itu bernama 'Senja Abadi', dan kondisinya jauh dari abadi; atap bocor, rak-rak berdebu, dan tumpukan utang yang menggunung. Aku yang biasanya hanya memikirkan bab mana yang akan kubaca selanjutnya, kini harus menghitung laba rugi, menawar harga dengan pemasok galak, dan belajar memperbaiki pipa air. Tanganku gemetar saat pertama kali membuka buku kas yang kosong.

Banyak malam aku menangis di antara tumpukan novel usang, merindukan masa ketika masalah terbesarku hanyalah memilih film untuk ditonton. Teman-temanku sibuk merayakan kelulusan dan rencana perjalanan, sementara aku sibuk membersihkan jamur di dinding dan memadamkan api kecil kegagalan. Rasanya seperti didorong ke tengah badai tanpa bekal apa pun.

Aku sempat berpikir untuk menjual toko itu, melepaskan beban yang terasa terlalu berat bagi pundakku yang kurus. Namun, setiap kali aku hampir menyerah, tatapanku jatuh pada ukiran nama 'Senja Abadi' di ambang pintu; seolah ia menuntut janji yang belum terucap, sebuah keteguhan hati.

Di tengah keputusasaan itu, aku menemukan sesuatu yang lebih keras dari keraguan: tekad. Aku mulai membaca buku-buku manajemen, bukan fiksi, dan belajar meracik kopi yang setidaknya tidak memalukan. Aku menyadari bahwa hidup tidak menunggu kesiapan, ia hanya menuntut kita untuk berani melangkah maju.

Setiap pelanggan yang datang, setiap kegagalan promosi, dan setiap perbaikan kecil di toko ini adalah babak baru yang harus kulalui dengan kepala tegak. Aku mulai memahami bahwa apa yang kualami ini adalah Novel kehidupan yang sebenarnya; penuh plot twist menyakitkan, namun wajib diselesaikan hingga akhir. Ini adalah kisah yang harus kutulis dengan keringat dan air mata, bukan sekadar tinta.

Perlahan, Senja Abadi mulai bernapas kembali. Aku belajar menghargai aroma kertas tua dan suara pintu yang berderit yang kini terasa seperti melodi penyambutan. Keuntungan pertamaku, meskipun hanya cukup untuk membeli lampu baru, terasa jauh lebih manis daripada semua kemudahan yang pernah kuterima.

Kedewasaan ternyata bukan tentang tahu semua jawaban, melainkan tentang kemampuan untuk bertahan ketika tidak ada jawaban yang terlihat. Aku tidak lagi mencari pelarian; aku mencari solusi. Risa yang dulu hanya bermimpi, kini telah menjadi Risa yang berjuang dan bertanggung jawab atas setiap inci kehidupan yang ia pijak.

Suatu sore, saat aku sedang merapikan laci meja kasir yang sudah bersih, aku menemukan sebuah surat tersembunyi dari pemilik sebelumnya, pamanku yang tak pernah kukenal dekat. Tulisannya singkat, hanya berbunyi: "Toko ini bukan warisan. Ini adalah ujian. Dan kau sudah lulus." Aku tersenyum, menyadari bahwa perjalanan ini telah mengubahku menjadi karakter utama yang kuat, siap menghadapi lembaran kisah berikutnya, seberat apa pun tintanya.