Aku selalu berpikir kedewasaan adalah pencapaian yang otomatis datang seiring bertambahnya usia, seperti hadiah yang dibungkus rapi. Namun, ternyata kedewasaan adalah medan pertempuran, sebuah palu godam yang menghancurkan ilusi-ilusi masa muda. Pengalaman terberat itu datang bukan dalam bentuk kesedihan yang perlahan, melainkan badai yang tiba-tiba merobohkan seluruh fondasiku.
Semua berawal dari warisan kecil, sebuah butik yang kuanggap sebagai jangkar masa depan. Aku menaruh seluruh kepercayaanku pada orang yang salah, seseorang yang kuanggap keluarga, yang diam-diam menggerogoti setiap aset dan mimpi yang kubangun. Ketika laporan keuangan itu datang, yang tersisa hanyalah angka-angka merah dan rasa sakit yang menusuk hingga ke ulu hati.
Dinding kamar terasa dingin dan sempit, menjadi saksi bisu hari-hari di mana aku hanya bisa meringkuk, bertanya mengapa takdir sekejam ini. Rasa dikhianati jauh lebih perih daripada kegagalan finansial itu sendiri; ia meracuni pandanganku terhadap dunia dan manusia di dalamnya. Ada titik di mana aku ingin menyerah, membiarkan semuanya hanyut, dan kembali menjadi Risa yang tidak peduli.
Tetapi, suara kecil di dalam diriku menolak. Suara itu berbisik bahwa jika aku menyerah sekarang, maka pengkhianatan itu benar-benar menang. Aku harus bangkit, bukan untuk membuktikan diri kepada orang lain, melainkan untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku lebih kuat dari keruntuhan yang kualami.
Aku mulai memunguti pecahan-pecahan itu satu per satu, mempelajari kembali setiap celah dan lubang yang membuatku jatuh. Inilah bagian paling jujur dari proses pendewasaan, saat kita menyadari bahwa hidup adalah sebuah labirin yang rumit, sebuah Novel kehidupan yang tak bisa ditebak alurnya. Setiap babak kegagalan harus dibaca sebagai peta, bukan sebagai akhir cerita.
Membangun kembali butik itu dari nol memerlukan disiplin yang brutal dan kesendirian yang mendalam. Aku belajar cara menghitung setiap rupiah, cara mengelola risiko, dan yang paling penting, cara menyeleksi siapa yang pantas kuberikan kepercayaan. Senyumku mungkin tidak lagi secerah dulu, tapi di dalamnya tersimpan ketegasan yang tak akan pernah bisa dibeli.
Aku menyadari, orang dewasa sejati bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang mampu berdiri tegak di atas puing-puing kehancuran mereka sendiri. Luka itu kini menjadi parut, pengingat abadi bahwa kematangan sejati lahir dari keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit.
Kini, butik kecilku kembali bernapas, lebih kokoh dan matang. Namun, pertanyaan itu selalu menggantung: apakah kedewasaan ini berarti aku harus kehilangan kemampuan untuk mempercayai sepenuhnya, atau apakah aku hanya perlu belajar bagaimana melindungi hati yang telah teruji?
