Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah hadiah yang datang seiring bertambahnya usia, sebuah jubah kehormatan yang otomatis tersemat ketika angka di kartu identitas terus merangkak naik. Dulu, aku berjalan dengan langkah ringan dan keyakinan bahwa aku tahu segalanya; dunia hanyalah panggung yang siap menyambut pertunjukanku. Kesombongan yang lembut itu adalah perisai paling tebal yang ku miliki.
Namun, hidup memiliki cara yang kejam untuk mengoyak ilusi. Titik balik itu datang bukan dari kesuksesan besar, melainkan dari kegagalan yang meruntuhkan fondasi kepercayaanku. Sebuah keputusan yang terburu-buru, sebuah janji yang tak mampu kutepati, menjatuhkanku dari ketinggian yang tak pernah kusadari aku pijak.
Rasa malu yang menggerogoti setelah kejadian itu terasa seperti lumpur dingin yang membelenggu. Aku ingin menghilang, mengganti namaku, dan lari ke kota asing di mana tidak ada yang tahu betapa rapuhnya diriku. Malam-malam terasa panjang dan sunyi, hanya ditemani oleh bisikan penyesalan yang tak henti-hentinya menyalahkan.
Di tengah keterpurukan itu, aku menyadari satu hal: kedewasaan bukanlah tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang kemampuan untuk berdiri tegak di tengah puing-puing yang kita ciptakan sendiri. Itu adalah tentang menghadapi mata orang-orang yang dikecewakan dan berkata, "Ya, ini adalah kesalahanku, dan aku akan memperbaikinya." Proses pemulihan itu jauh lebih lambat dan menyakitkan daripada yang kubayangkan. Aku harus belajar merangkak lagi, menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, dan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian. Aku belajar menghargai proses kecil, batu demi batu, hingga aku bisa membangun kembali kepercayaan diri yang telah hancur.
Momen-momen gelap itu, ironisnya, menjadi babak paling penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Kegagalan mengajarkanku empati yang tak pernah bisa diajarkan oleh buku mana pun. Aku mulai melihat perjuangan orang lain bukan sebagai drama sampingan, melainkan sebagai cerminan dari kompleksitas manusia.
Kini, aku tidak lagi mencari kesempurnaan. Aku mencari keaslian. Aku memahami bahwa menjadi dewasa adalah proses berkelanjutan, sebuah perjalanan tanpa akhir di mana kita terus mengupas lapisan-lapisan diri yang naif dan menggantinya dengan pemahaman yang lebih dalam.
Langkahku mungkin tidak seringan dulu, tetapi jauh lebih mantap dan bertujuan. Bekas luka yang tertinggal bukan lagi sumber rasa malu, melainkan peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah berjalan. Mereka adalah pengingat abadi akan harga yang harus dibayar untuk menjadi diriku yang sekarang.
Maka, jika kau bertanya apa yang membuatku dewasa, jawabannya bukan waktu, melainkan badai yang pernah menghancurkanku. Namun, badai itu tidak hanya merobohkan, ia juga mengukir sayap baru. Pertanyaannya sekarang, setelah semua yang kulalui, babak apa yang akan kubuka selanjutnya?
