Aku selalu hidup dalam gelembung yang nyaman, percaya bahwa dunia adalah kanvas luas yang hanya menanti kuas seniku. Dulu, ambisiku hanya sebatas pameran seni tunggal dan aroma cat minyak yang menenangkan. Kedewasaan terasa seperti janji manis yang akan datang seiring bertambahnya usia, tanpa perlu melalui ujian yang berarti.
Namun, sebuah panggilan telepon di tengah malam meruntuhkan seluruh fondasi itu. Kabar tentang keruntuhan finansial keluarga dan kesehatan ayah yang memburuk memaksa tanganku melepaskan kuas, menggantinya dengan map berisi lamaran kerja. Tiba-tiba, aku harus menjadi tiang penopang, bukan lagi pemimpi yang dilindungi.
Keputusan itu terasa seperti pengkhianatan terhadap diri sendiri. Aku meninggalkan kota kecil yang damai, meninggalkan janji-janji pada masa depan yang telah kuukir, menuju metropolitan yang bising dan kejam. Koperku berisi pakaian seadanya, dan di dalamnya, ada hati yang terasa seperti pecahan kaca.
Menghadapi meja kerja yang dingin dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya, aku menyadari betapa naifnya aku selama ini. Di kota ini, air mata tidak dihargai; hanya ketahanan dan kecepatan yang diakui. Aku harus belajar menelan pahitnya kegagalan dan bangun lagi sebelum matahari terbit.
Setiap malam, rasa sepi merayap, menguji batas kekuatanku. Aku merindukan kebebasan untuk sekadar bernapas tanpa beban tanggung jawab yang menindih. Namun, setiap kali aku melihat foto keluargaku, aku menemukan alasan baru untuk bertahan, untuk bekerja lebih keras, dan untuk tidak menyerah pada keputusasaan.
Perlahan, aku mulai melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Aku belajar mengelola anggaran, menghadapi orang-orang sulit, dan mengambil keputusan yang menentukan nasib banyak orang—termasuk nasibku sendiri. Kedewasaan ternyata bukan pencapaian, melainkan proses yang menyakitkan.
Pengalaman ini mengajarkanku bahwa setiap babak sulit adalah bagian penting dari alur cerita yang lebih besar. Ini adalah inti dari sebuah Novel kehidupan, di mana karakter utama harus jatuh berkali-kali hanya untuk menemukan kekuatan sejati dalam dirinya. Luka-luka itu tidak lagi terasa sebagai kelemahan, melainkan peta jalan menuju kemandirian.
Aku tidak lagi bermimpi tentang kanvas dan pameran; aku bermimpi tentang stabilitas dan masa depan yang aman bagi mereka yang kucintai. Mimpiku berubah, tetapi jiwaku menjadi lebih kokoh. Aku menemukan bahwa aku jauh lebih tangguh daripada yang kukira.
Mungkin aku kehilangan masa mudaku yang riang, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kemampuan untuk berdiri tegak di tengah badai. Dan yang paling menyentuh, aku menyadari bahwa beban tanggung jawab yang dulu terasa mencekik, kini telah menjelma menjadi sepasang sayap yang membawaku terbang melampaui batas-batas diriku yang lama.
