Aku ingat jelas, di usia ketika teman-teman sebaya sibuk merayakan kelulusan dan merencanakan petualangan di kota metropolitan, aku justru harus mengepak kembali semua impianku. Ransel yang sudah siap teronggok di sudut kamar, kini hanya menjadi saksi bisu ambisi yang terpaksa ditunda. Aku siap terbang, namun takdir menuntutku untuk tetap membumi.

Tragedi itu datang tanpa permisi, merenggut pilar utama keluarga kami dan meninggalkan lubang menganga yang harus segera kutambal. Tiba-tiba, tumpukan buku kuliah berganti menjadi tumpukan tagihan dan daftar kebutuhan harian Adit, adikku yang baru berusia tujuh tahun. Beban tanggung jawab itu terasa begitu dingin dan berat di pundakku yang masih rapuh.

Ada fase di mana aku marah pada semesta, mempertanyakan mengapa aku harus menanggung semua ini sementara yang lain bebas merayakan masa muda mereka. Malam-malam kulalui dengan air mata yang tumpah di atas laporan keuangan sederhana yang tak pernah kumengerti. Aku merindukan hidup yang mudah, hidup di mana aku hanya perlu khawatir tentang nilai ujian.

Namun, demi senyum polos Adit dan demi janji yang kuucapkan di hati, aku harus berdiri tegak. Aku belajar menawar harga di pasar, memperbaiki genteng yang bocor, dan berbicara dengan nada tegas kepada penagih utang yang datang silih berganti. Perlahan, aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang tertera di kartu identitas, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu beradaptasi dengan kenyataan yang pahit.

Proses itu menyakitkan, seperti ditempa di bara api. Setiap keputusan yang kuambil adalah pelajaran, setiap kegagalan adalah cambuk yang memaksaku untuk lebih kuat. Aku mulai menemukan keindahan dalam hal-hal kecil: masakan sederhana yang Adit santap dengan lahap, atau ketenangan saat melihat matahari terbit dari jendela dapur yang berembun.

Aku mulai memahami bahwa kisah hidupku, dengan segala liku dan patahnya, adalah sebuah *Novel kehidupan* yang unik. Tidak ada pemeran pengganti, tidak ada jeda, hanya aksi nyata yang menuntut ketulusan dan pengorbanan. Aku belajar berempati bukan hanya karena aku pernah terluka, tetapi karena aku kini memahami bahwa setiap orang membawa beban yang tak terlihat.

Orang-orang di sekitar mulai melihatku berbeda; bukan lagi Risa si pemimpi yang idealis, melainkan Risa yang tenang, yang kata-katanya penuh pertimbangan. Perubahan itu tidak datang dari buku motivasi, melainkan dari jam-jam panjang bekerja keras dan tidur dengan hati yang penuh kekhawatiran namun juga harapan.

Ternyata, kedewasaan adalah seni menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan, dan bahwa rencana terbaik yang kita susun bisa hancur dalam sekejap. Tapi, di reruntuhan rencana itulah, kita menemukan fondasi yang jauh lebih kokoh untuk membangun diri yang sejati.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok, apakah impian lamaku akan kembali mengetuk pintu, ataukah takdir telah menyiapkan jalan yang sama sekali baru. Yang kutahu, aku kini siap menghadapinya, sebab luka yang pernah kurasakan telah menumbuhkan sayap baja yang takkan mudah dipatahkan.