Aku selalu berpikir kedewasaan adalah tentang mencapai usia tertentu, atau memiliki jabatan yang mentereng. Namun, semesta punya cara yang jauh lebih brutal dan indah untuk mengajarkan maknanya; ia datang dalam bentuk kegagalan besar yang meruntuhkan semua fondasi keyakinan diri yang selama ini kubangun.
Momen itu terjadi saat proyek impian yang kukerjakan dengan darah dan air mata, tiba-tiba ambruk karena kesalahan perhitungan yang sepele. Rasa malu dan kekecewaan itu bagai beban fisik, menindih dada hingga aku kesulitan bernapas di antara tumpukan surat peringatan dan tatapan iba dari orang-orang terdekat.
Selama berminggu-minggu, aku hanya mampu bersembunyi dalam bayangan, menolak telepon, dan membiarkan diri tenggelam dalam penyesalan yang pahit. Aku menyadari, idealismeku selama ini hanyalah gelembung sabun yang mudah pecah ketika berhadapan langsung dengan tajamnya realita pasar dan tanggung jawab yang sesungguhnya.
Titik baliknya datang ketika aku melihat ibuku, yang tanpa banyak bicara, mulai menjual perhiasan peninggalan keluarga demi menutupi sebagian kecil utangku. Saat itu, harga diriku hancur lebur, menyisakan kerangka kosong yang dipaksa untuk melihat betapa egoisnya aku selama ini.
Aku mulai bangkit, bukan dengan semangat membara, melainkan dengan rasa malu yang membimbingku untuk lebih teliti, lebih rendah hati, dan lebih menghargai proses. Setiap langkah kecil, mulai dari membereskan dokumen yang berantakan hingga meminta maaf pada rekan kerja yang kukecewakan, terasa seperti babak baru dalam sebuah Novel kehidupan yang harus kutulis ulang.
Proses itu mengajarkanku bahwa kedewasaan sejati bukan tentang menghindari masalah, melainkan tentang kemampuan untuk berdiri tegak di tengah badai, mengakui kesalahan, dan tetap melanjutkan perjalanan meski kaki terasa sangat berat. Aku belajar membedakan mana simpati tulus dan mana tatapan meremehkan, sebuah pelajaran berharga tentang karakter manusia.
Aku menemukan kekuatan baru dalam keheningan dan kesendirian, di mana aku bisa jujur pada diriku sendiri tentang kelemahan yang harus diperbaiki. Kegagalan itu bukan akhir, melainkan sebuah kurikulum intensif yang dirancang khusus untuk membentuk tulang punggung yang lebih kuat.
Perlahan, aku berhasil melunasi kewajibanku dan memulai kembali dari nol, kali ini dengan perhitungan yang matang dan hati yang jauh lebih tenang. Aku tidak lagi mengejar pengakuan, melainkan mengejar kualitas dan integritas dalam setiap keputusan yang kuambil.
Pengalaman pahit itu memang meninggalkan bekas luka, namun bekas luka itulah yang kini menjadi peta menuju diriku yang lebih dewasa dan utuh. Kedewasaan bukanlah tujuan, melainkan perjalanan yang terus membentuk kita, memastikan kita tidak pernah berhenti belajar mencintai proses, bahkan saat proses itu terasa menyakitkan.
