Aku selalu hidup dalam gelembung kenyamanan yang tipis, mengira bahwa dunia adalah serangkaian janji manis yang akan selalu terpenuhi. Prioritasku hanyalah tawa dan rencana masa depan yang masih terasa jauh, tanpa pernah menyentuh tanah realitas yang keras. Aku adalah seorang pemimpi yang takut untuk bangun.

Namun, badai datang tanpa pemberitahuan. Saat ayahku, pilar utama keluarga, mendadak harus dirawat dan tak bisa lagi mengurus bengkel ukir kayu warisan, seluruh pondasi hidupku runtuh. Tiba-tiba, tumpukan tagihan, gaji karyawan, dan desakan klien menjadi tanggung jawab yang harus aku pikul di pundak yang belum siap.

Aku mencoba. Dengan tangan yang lebih terbiasa memegang pena daripada pahat, aku berusaha keras memahami seluk-beluk bisnis yang selama ini aku anggap remeh. Rasa panik dan ketidakmampuan menjeratku, membuatku sering menangis di balik tumpukan serbuk kayu yang berbau pahit.

Kegagalan pertama datang menghantam seperti ombak besar. Sebuah pesanan besar dibatalkan karena aku salah perhitungan material, menyebabkan kerugian yang signifikan. Rasa malu dan putus asa membuatku ingin lari, kembali menjadi Risa yang dulu, yang tak perlu memikirkan beban.

Di malam yang sunyi, saat aku menatap langit-langit bengkel yang gelap, aku menyadari bahwa inilah naskah yang harus aku jalani. Inilah bagian terberat dari Novel kehidupan yang selama ini aku baca dari kejauhan. Aku harus berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi karakter utama yang berjuang.

Aku memaksa diriku belajar dari nol, meminta bantuan karyawan senior yang selama ini aku abaikan, dan tidur hanya beberapa jam sehari. Setiap goresan pahat, setiap angka di buku kas, adalah pelajaran berharga yang mengikis sisa-sisa kepolosan masa mudaku.

Perlahan, bengkel itu mulai bernapas kembali. Bukan hanya bengkel yang pulih, tetapi jiwaku juga. Aku menemukan kekuatan tak terduga dalam diri, sebuah ketahanan yang lahir dari keharusan dan bukan dari pilihan.

Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai usia tertentu, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu bangkit setelah dihantam badai yang paling brutal. Pengalaman pahit itu adalah guru terbaik yang pernah aku miliki, mencetak diriku menjadi versi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih menghargai setiap proses.

Ayahku tersenyum bangga saat melihatku memimpin rapat dengan percaya diri. Namun, aku tahu perjuangan belum berakhir. Aku masih berdiri di tengah babak baru, siap menghadapi tantangan selanjutnya, karena aku telah memahami bahwa luka yang membentuk kita jauh lebih indah daripada hidup yang stagnan.