Aku selalu mengira kedewasaan adalah sebuah pencapaian yang otomatis datang seiring bertambahnya usia, seperti hadiah yang dibungkus rapi. Hidupku di Jakarta terasa ringan, dihiasi tawa tanpa beban dan perencanaan jangka pendek yang hanya berkutat pada tujuan liburan berikutnya. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa arti perjuangan, apalagi pengorbanan yang sesungguhnya.

Semua berubah saat telepon dari kota kecil di Jawa Tengah itu berdering, membawa kabar duka dan warisan yang tak terduga. Nenek meninggalkan kami, dan yang lebih mengejutkan, ia mewariskan padaku sebuah sanggar batik kuno yang ternyata sedang terlilit utang besar. Beban itu tiba-tiba mendarat di pundakku yang selama ini hanya terbiasa membawa tas tangan.

Malam-malam awal di sanggar terasa dingin dan asing. Aroma malam yang biasanya berbau kopi dan parfum mahal, kini digantikan oleh bau lilin panas dan zat pewarna yang menyengat. Aku harus belajar membedakan motif Parang Rusak dengan Kawung, sambil berhadapan dengan para perajin senior yang menatapku dengan tatapan skeptis dan penuh keraguan.

Aku sering menangis diam-diam di gudang penyimpanan kain, merasa seperti aktris yang salah panggung. Ini bukan lagi drama romantis yang sering kutonton; ini adalah kenyataan yang menuntut perhitungan detail, negosiasi keras, dan keputusan yang bisa menentukan nasib puluhan keluarga. Keputusan yang kubuat tidak hanya memengaruhi dompetku, tetapi juga dapur mereka.

Ada satu sore di mana aku hampir menyerah, ingin menjual semua aset, dan kembali ke zona nyamanku yang hangat. Namun, saat menyentuh selembar kain yang belum selesai, aku melihat sidik jari Nenek yang samar di atasnya, seolah ia berbisik bahwa benang yang patah itu harus dirajut ulang, bukan dibuang begitu saja.

Sejak saat itu, aku menyadari bahwa fase ini adalah bab terpenting dari Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, tanpa bantuan editor atau plot yang mudah ditebak. Aku harus meninggalkan sifat kekanak-kanakan di belakang dan menerima bahwa menjadi dewasa berarti berani kotor dan berani gagal. Aku mulai membaca laporan keuangan, belajar manajemen stok, dan bahkan ikut turun tangan mencanting.

Perlahan, sanggar itu mulai bernapas lagi. Kepercayaan para perajin kembali, dan pesanan kecil mulai berdatangan. Bukan kemenangan besar yang mengubah dunia, tetapi kemenangan kecil atas keraguan diri yang selama ini membelenggu. Aku tidak lagi mencari kebahagiaan di luar, tetapi menemukannya di setiap helai kain yang berhasil kami selamatkan.

Aku kini menatap bayanganku di cermin—bukan lagi gadis yang takut debu, melainkan seorang wanita dengan sorot mata yang lebih tajam dan tangan yang sedikit kasar. Pengalaman ini telah mengukir peta baru di jiwaku, membuktikan bahwa kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak ulang tahun yang dirayakan, melainkan berapa banyak badai yang berhasil kita hadapi dan lewati.

Lantas, jika ini adalah akhir dari babak sulit, babak selanjutnya akan menuntut apa? Aku menutup buku kas, memandang langit malam yang kini terasa penuh janji, bertanya-tanya apakah aku sudah benar-benar siap untuk tantangan berikutnya yang pasti jauh lebih besar.