PORTAL7.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto telah mengeluarkan instruksi tegas kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk segera menginisiasi penanganan dampak bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang melanda wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Arahan ini menekankan respons cepat dari lembaga terkait dalam mengatasi krisis pasca-gempa.

Menindaklanjuti perintah tersebut, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengonfirmasi bahwa dirinya diperintahkan langsung oleh Presiden untuk menuju lokasi terdampak pada hari Kamis, 2 April 2026. Keberangkatan ini bertujuan untuk melakukan pemantauan dan koordinasi di lapangan secara langsung.

Tujuan utama kunjungan BNPB ke lokasi bencana adalah untuk memvalidasi kondisi terkini serta melakukan pendataan kerusakan secara akurat. Selain itu, BNPB juga bertugas menyalurkan bantuan logistik dasar yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak.

Bantuan darurat yang telah disiapkan oleh BNPB mencakup kebutuhan permakanan, fasilitas penampungan sementara (shelter) bagi warga yang mengungsi, pakaian, serta pasokan air bersih. Meskipun demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah pasti pengungsi akibat gempa tersebut.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan jaminan bahwa sistem peringatan dini tsunami untuk wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara telah beroperasi secara optimal. Hal ini disampaikan langsung oleh pihak BMKG mengenai kesiapan mitigasi bencana lanjutan.

"Sembilan alat deteksi tsunami yang terpasang telah bekerja dengan baik dalam memantau potensi dampak lanjutan dari gempa tersebut," dilansir dari Antara, ujar Teuku Faisal Fathani selaku Kepala BMKG. Sistem peringatan dini Multi-Hazard yang telah dikembangkan selama empat tahun terakhir menunjukkan efektivitasnya.

BMKG mencatat bahwa informasi awal mengenai gempa dan potensi tsunami berhasil disampaikan dalam waktu kurang dari tiga menit setelah kejadian. Peringatan dini kedua dikeluarkan delapan menit kemudian, dan peringatan tsunami secara resmi diakhiri dua jam setelah estimasi kedatangan gelombang pertama.

Faisal Fathani menambahkan bahwa sembilan alat pengukur pasang surut (tide gauge) berhasil merekam kejadian tsunami, dengan rincian enam milik BMKG dan tiga lainnya milik Badan Informasi Geospasial (BIG). Ketinggian gelombang tsunami yang tercatat berkisar antara 0,25 hingga 0,75 meter.

Ketinggian gelombang tersebut berpotensi meningkat di area tertentu karena kondisi geografis lokal yang kompleks, seperti adanya teluk dan pulau-pulau kecil di sekitar lokasi. Gempa tektonik dangkal bermagnitudo 7,6 ini terjadi pada pukul 05.48 WIB dengan kedalaman 33 kilometer, disebabkan oleh aktivitas sesar naik yang memicu potensi tsunami.