PORTAL7.CO.ID - Di sudut kota yang bising, berdiri sebuah toko jam tua milik Pak Aris yang nyaris terlupakan oleh deru zaman. Suara detak jarum jam di sana seolah menjadi satu-satunya denyut nadi yang tersisa di bangunan kusam tersebut.

Suatu sore yang mendung, seorang anak laki-laki bernama Elang berteduh di depan pintu toko dengan pakaian yang basah kuyup. Pak Aris membukakan pintu, tidak menyadari bahwa pertemuan itu akan mengubah sisa hari-harinya selamanya.

Elang adalah seorang yatim piatu yang bertahan hidup dengan mengumpulkan barang bekas di pinggiran rel kereta api. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap mesin-mesin kecil yang berputar di balik kaca jam-jam antik tersebut.

Pak Aris mulai mengajari Elang cara memperbaiki roda gigi yang aus dan menyetel melodi yang sempat hilang. Dalam setiap putaran obeng, mereka menemukan kembali potongan-potongan harapan yang sempat terkubur oleh kerasnya dunia.

Melalui kisah ini, pembaca akan menyelami sebuah novel kehidupan yang menggambarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan. Kedekatan mereka tumbuh layaknya kakek dan cucu yang saling melengkapi kekosongan jiwa masing-masing.

Namun, sebuah rahasia besar tersimpan di balik jam dinding raksasa yang tidak pernah berdetak selama puluhan tahun di pojok ruangan. Pak Aris selalu melarang Elang menyentuhnya, seolah ada luka masa lalu yang terkunci rapat di sana.

Suatu malam, Elang menemukan sebuah surat tua yang terselip di bawah mesin jam raksasa tersebut dengan nama yang sangat dikenalnya. Tangan kecilnya gemetar saat menyadari bahwa takdir membawa mereka bertemu bukan karena sebuah kebetulan semata.

Kini, Elang harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mungkin menyakitkan atau membiarkan waktu terus berjalan dengan rahasia yang ada. Di ambang keraguan, ia menatap wajah Pak Aris yang terlelap dengan senyum damai yang jarang terlihat.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa lama kita bernapas, melainkan tentang seberapa banyak jejak kebaikan yang kita tinggalkan di hati orang lain. Akankah dentang jam raksasa itu kembali terdengar sebagai tanda maaf atau justru menjadi akhir dari segalanya?