PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Republik Indonesia mengambil langkah signifikan dan terencana untuk mengakselerasi proses hilirisasi di sektor pertanian secara menyeluruh. Fokus utama dari kebijakan strategis ini adalah penguatan basis produksi bahan bakar nabati (biofuel) seperti biodiesel dan bioetanol dalam skala masif.
Langkah percepatan ini merupakan respons langsung terhadap dinamika dan ketidakpastian tensi geopolitik yang sedang melanda kawasan global saat ini. Pengembangan sektor biofuel kini diposisikan sebagai pilar krusial dalam upaya substitusi bahan bakar fosil guna mencapai swasembada energi nasional.
Arahan untuk memprioritaskan hilirisasi biofuel ini datang langsung dari pucuk pimpinan negara. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menggarisbawahi pentingnya tindakan cepat ini untuk menjaga stabilitas ketahanan energi nasional.
Menteri Amran menjelaskan bahwa instruksi percepatan ini bersifat mendesak mengingat situasi global yang sedang memanas. "Arahan presiden (adalah) untuk sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat," ungkap Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin (30/3/2026).
Saat ini, pemerintah menilai bahwa ketahanan sektor pangan nasional sudah berada pada posisi yang cukup kuat dan stabil. Oleh karena itu, fokus pembangunan kini bergeser secara strategis menuju pencapaian swasembada energi melalui pemanfaatan optimal produk-produk turunan hasil pertanian.
Implementasi biodiesel di dalam negeri telah mencapai kemajuan signifikan, yakni dengan penerapan campuran sebesar 40 persen minyak sawit, yang dikenal sebagai program B40. Program ini terbukti berhasil mengurangi secara substansial ketergantungan negara terhadap impor solar dari pasar internasional.
Target ambisius selanjutnya adalah peningkatan kadar campuran tersebut hingga mencapai level B50. Transformasi ini diharapkan menjadi titik balik yang akan menghentikan seluruh penggunaan solar berbasis fosil melalui substitusi penuh menggunakan minyak sawit domestik.
Mengenai target tersebut, Menteri Pertanian menegaskan komitmen pemerintah. "Janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton," ujar Amran.
Tidak hanya sektor solar, sektor bensin juga menjadi sasaran hilirisasi melalui program E20, yang mengimplikasikan pencampuran etanol hingga mencapai batas 20 persen. Bahan baku utama untuk produksi etanol ini akan diperoleh dari komoditas lokal yang melimpah, seperti jagung, tebu, dan ubi kayu.