Aku selalu mengira bahwa kedewasaan adalah tentang angka yang bertambah di kalender setiap harinya. Namun, sebuah badai yang tak terduga datang menghantam, memaksaku menatap cermin dan melihat sosok yang asing.

Kesunyian malam itu menjadi saksi saat aku harus memilih antara menyerah pada keadaan atau bangkit berdiri. Tanggung jawab yang selama ini kuhindari tiba-tiba jatuh tepat di pundakku tanpa sempat aku bersiap sedikit pun.

Setiap tetes air mata yang jatuh bukan lagi tanda kelemahan, melainkan pupuk bagi jiwa yang semula gersang. Aku mulai memahami bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena hatiku sedang hancur berkeping-keping.