PORTAL7.CO.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan berat pada perdagangan hari Senin siang, 9 Maret 2026. Mata uang Garuda tercatat bergerak mendekati level psikologis krusial yang menjadi perhatian pasar.

Level psikologis yang dimaksud adalah ambang batas Rp 17.000 per Dolar AS. Angka ini sering dianggap sebagai penanda penting stabilitas mata uang domestik di hadapan mata uang safe haven global.

Pelemahan signifikan yang dialami oleh kurs Rupiah ini dipicu oleh adanya sentimen risk-off global yang kini menyelimuti pasar keuangan internasional. Sentimen ini secara langsung memengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset di negara berkembang.

Sentimen risk-off tersebut mendorong para investor untuk mengambil langkah defensif terhadap portofolio investasi mereka. Hal ini mengakibatkan penarikan dana secara masif dari aset-aset yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi.

Sebagai konsekuensinya, mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, menjadi sasaran utama aksi jual oleh para pelaku pasar global. Kondisi ini diperparah oleh dinamika ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Dampak dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah ini menjalar luas ke berbagai sektor keuangan di seluruh dunia. Pasar merespons dengan mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman dan stabil dalam jangka pendek.

Kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko ini secara otomatis memberikan tekanan apresiasi terhadap Dolar AS, mata uang yang kerap menjadi destinasi pelarian modal saat terjadi gejolak global. Hal ini turut menekan pergerakan Rupiah lebih jauh.

Dilansir dari JABARONLINE.COM, pergerakan Rupiah pada hari itu menunjukkan tren pelemahan yang patut dicermati oleh regulator dan pelaku pasar. Situasi ini memerlukan pemantauan ketat terhadap aliran modal keluar (capital outflow).

Keterkaitan antara isu geopolitik regional dengan stabilitas nilai tukar domestik kembali terbukti dalam dinamika perdagangan yang terjadi pada awal pekan tersebut. Investor global cenderung bereaksi cepat terhadap setiap eskalasi ketegangan internasional.