Dunia yang kukenal, yang selalu dihiasi warna-warna cerah janji masa depan, tiba-tiba runtuh. Surat penolakan itu bukan sekadar kertas; ia adalah vonis yang membatalkan segala rencana yang telah kurajut sejak kecil. Aku terduduk di lantai, merasakan dinginnya ubin yang seolah menyerap seluruh kehangatan dan harapan yang tersisa di dadaku.
Kegagalan itu terasa memalukan, beban yang tak terucapkan di pundak keluarga yang sudah banyak berkorban. Aku menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa hidup tidak menawarkan jaring pengaman, dan aku harus bertanggung jawab penuh atas arah kompas perjalananku yang mendadak hilang.
Maka, aku memutuskan pergi. Meninggalkan hiruk pikuk kota yang penuh kenangan manis dan janji palsu, aku menuju Timur, ke sebuah pabrik pengolahan teh di kaki gunung yang sunyi. Di sana, tidak ada yang tahu siapa aku atau apa yang pernah kuimpikan.
Pekerjaan itu keras, jauh dari tumpukan buku dan layar laptop yang akrab denganku. Tanganku yang dulu hanya terbiasa memegang pena, kini harus bergumul dengan karung-karung basah dan mesin-mesin yang berisik. Setiap malam, ototku menjerit, namun anehnya, batinku mulai menemukan kedamaian yang hilang.
Kedewasaan datang bukan dalam bentuk gelar atau pengakuan, melainkan dalam ketahanan fisik dan mental menghadapi hari yang sama berulang kali. Aku belajar bahwa keuletan adalah bahasa yang lebih jujur daripada ambisi sesaat.
Di antara para pekerja lain yang wajahnya terukir oleh waktu dan perjuangan, aku melihat bagaimana mereka menjalani hidup dengan martabat luar biasa. Mereka mengajarkan padaku bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang kita sebut Novel kehidupan. Setiap air mata dan keringat adalah babak penting yang membentuk karakter.
Lama-kelamaan, aku tidak lagi melihat kegagalan sebagai akhir. Bekas luka di telapak tanganku menjadi pengingat bahwa aku pernah jatuh, tetapi juga bukti bahwa aku mampu bangkit dan bekerja.
Aku mulai menghargai rasa kopi panas di pagi hari, tawa renyah rekan kerja, dan senja yang membakar langit di balik punggung gunung. Hal-hal sederhana inilah yang mengisi kembali jiwaku, mengajarkanku bahwa pertumbuhan sejati seringkali terjadi saat kita berhenti mencari validasi eksternal.
Malam itu, saat aku menatap bintang-bintang yang terasa begitu dekat, aku tahu Risa yang dulu sudah mati, digantikan oleh seseorang yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap menerima apapun yang dilemparkan takdir. Namun, apakah kekuatan baru ini cukup untuk menghadapi rahasia lama yang menungguku kembali di kota?
